LENSA BEM FISIP UMM X IAC: Anak Muda Bergerak Hapus Stigma & Diskriminasi Lewat Kampanye #TenangAdaGue

By Published On: June 9th, 2026

LENSA BEM FISIP UMM X IAC: Anak Muda Bergerak Hapus Stigma & Diskriminasi Lewat Kampanye #TenangAdaGue

By Published On: June 9th, 2026

HIV-AIDS masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat yang dihadapi oleh Indonesia. Namun di tengah berbagai tantangan tersebut, anak muda memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari solusi. Semangat itulah yang dihadirkan dalam kegiatan IAC x LENSA BEM FISIP UMM Goes to Campus, sebuah kolaborasi antara Indonesia AIDS Coalition (IAC) dan BEM FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berlangsung pada tanggal 3-4 Juni 2026.

Kegiatan ini merupakan bagian dari kampanye nasional #TenangAdaGue, sebuah gerakan yang mengajak generasi muda untuk menjadi sumber informasi yang terpercaya, membangun dukungan bagi Orang dengan HIV (ODHIV), serta bersama-sama menghapus stigma dan diskriminasi yang masih sering terjadi di masyarakat.

Membangun Pemahaman, Membuka Perspektif

Hari pertama kegiatan dilaksanakan di Auditorium GKB 5 UMM dan diikuti oleh 50 orang mahasiswa dari berbagai organisasi kemahasiswaan dan komunitas kampus. Peserta tidak hanya mendapatkan materi dasar mengenai HIV-AIDS, tetapi juga diajak memahami berbagai tantangan yang masih dihadapi ODHIV dalam kehidupan sehari-hari.

Diskusi yang berlangsung menunjukkan bahwa stigma terhadap HIV masih banyak dipengaruhi oleh asumsi dan stereotip yang berkembang di masyarakat. Berbagai isu seperti pekerja seks, laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, pengguna narkotika, hingga faktor-faktor yang menyebabkan seseorang terinfeksi HIV menjadi topik yang dibahas secara terbuka.

Melalui proses fasilitasi yang interaktif, peserta diajak melihat bahwa kerentanan terhadap HIV tidak dapat dipahami hanya dari sudut pandang moral. Faktor sosial, ekonomi, kondisi kesehatan mental, kekerasan, hingga keterbatasan akses ke informasi turut berperan dalam meningkatkan risiko seseorang untuk terpapar HIV.

Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang muncul selama sesi diskusi. Tidak hanya seputar aspek medis HIV, peserta juga ingin memahami kehidupan sosial ODHIV, hubungan interpersonal, serta cara membangun lingkungan yang lebih inklusif dan bebas dari diskriminasi.

Salah satu topik yang paling menarik perhatian adalah konsep U=U (Undetectable = Untransmittable), atau TDTM (Tidak Terdeteksi Tidak Menularkan), yakni kondisi ketika ODHIV yang menjalani terapi secara konsisten hingga Viral Load (VL) tidak terdeteksi tidak dapat menularkan HIV melalui hubungan seksual. Informasi ini menjadi pembelajaran baru bagi banyak peserta dan membantu mengurangi berbagai ketakutan yang selama ini berkembang akibat kurangnya pemahaman.

Melahirkan Youth Champion dari Kampus

Di akhir hari pertama, peserta diajak untuk melakukan refleksi dan menyusun komitmen agar terlibat lebih aktif dalam kampanye penghapusan stigma HIV-AIDS. Dari proses tersebut, terpilih sepuluh mahasiswa yang bersedia menjadi Youth Champion, yaitu edukator sebaya yang akan menjadi penggerak kampanye di lingkungan kampus.

Kehadiran Youth Champion menjadi bagian penting dalam pendekatan kampanye #TenangAdaGue. Anak muda dinilai memiliki kedekatan sosial dan kemampuan komunikasi yang memungkinkan pesan edukasi diterima secara lebih efektif oleh kelompok usia mereka.

Ketika Edukasi Menjadi Gerakan Bersama

Pada hari kedua, kegiatan berlanjut di kawasan Student Center UMM yang menjadi pusat aktivitas mahasiswa. Di sinilah para Youth Champion mulai menjalankan peran mereka secara langsung.

Dengan pendekatan yang santai dan dekat dengan kehidupan mahasiswa, para Youth Champion mengajak teman-teman kampus untuk berdiskusi mengenai HIV, pentingnya tes HIV, cara pencegahan penularan, serta dampak dari stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV.

Dalam waktu singkat, sebanyak 65 mahasiswa berhasil dijangkau melalui edukasi langsung. Pendekatan sebaya ini terbukti mampu menciptakan ruang dialog yang lebih terbuka dibandingkan metode penyampaian informasi yang bersifat formal dan satu arah.

Selain edukasi langsung, peserta juga diajak mengikuti berbagai aktivitas interaktif di booth kampanye. Permainan edukatif berbasis flash card menjadi salah satu aktivitas favorit yang membantu peserta menguji sekaligus memperkuat pemahaman mereka mengenai HIV-AIDS dengan cara yang menyenangkan.

Sementara itu, aktivitas Pohon Harapan menjadi ruang refleksi yang menyentuh. Mahasiswa menuliskan berbagai pesan dukungan dan harapan bagi ODHIV sebagai bentuk solidaritas dan komitmen untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif.

Pesan-pesan yang tergantung di Pohon Harapan menunjukkan bahwa ketika informasi yang benar diberikan, empati dapat tumbuh dan stigma dapat mulai dipatahkan.

Anak Muda Adalah Bagian dari Solusi

Kegiatan IAC x LENSA BEM FISIP UMM Goes to Campus membuktikan bahwa anak muda bukan hanya sasaran edukasi HIV, tetapi juga dapat menjadi agen perubahan yang aktif dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman dan suportif bagi ODHIV.

Melalui diskusi kritis, edukasi sebaya, dan ruang partisipasi yang bermakna, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga membangun kesadaran bahwa penghapusan stigma adalah tanggung jawab bersama.

Keberhasilan para Youth Champion menjangkau puluhan mahasiswa dalam waktu singkat menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas dan peer education memiliki potensi besar untuk memperluas akses informasi HIV-AIDS di lingkungan kampus.

Melalui kampanye #TenangAdaGue, IAC  bersama generasi muda terus mendorong terciptanya masyarakat yang lebih inklusif, di mana setiap orang dapat memperoleh informasi yang benar, mengakses layanan kesehatan tanpa rasa takut, serta mendapatkan dukungan tanpa stigma dan diskriminasi.

Karena ketika seseorang menghadapi tantangan hidup dengan HIV, dukungan sederhana dari lingkungan sekitar dapat membuat perbedaan besar.

Menyuarakan Lewat Karya

Sesi pengenalan gerakan ini menjadi semakin bermakna dengan hadirnya Bongky Ismail, seorang musisi dan pencipta lagu kenamaan, yang memberikan testimoni mendalam mengenai keterlibatan personalnya dalam gerakan #TenangAdaGue. Dalam pemaparannya, Bongky membagikan refleksi dari proses kreatif yang ia lalui saat menciptakan lagu tema untuk kampanye ini. Proses tersebut lahir setelah ia mendengar langsung penuturan dan kisah-kisah nyata dari para pekerja lapangan IAC dan lembaga mitra mengenai bagaimana ODHIV masih terus mengalami berbagai bentuk stigma dan diskriminasi di tengah masyarakat.

Pengalaman emosional mendengarkan tantangan di garis depan tersebut kemudian ia transformasikan menjadi sebuah karya seni. Karya ini tidak sekadar berfungsi sebagai media hiburan, melainkan sebuah pernyataan sikap dan pemantik gerakan sosial. Melalui tagar #TenangAdaGue, Bongky bersama seluruh elemen yang terlibat menegaskan bahwa gerakan ini hadir sebagai wadah kolektif untuk melawan stigma, mengikis diskriminasi, dan memberikan ruang aman serta dukungan penuh bagi ODHIV agar dapat hidup berdaya tanpa rasa takut. Kehadiran figur publik seperti Bongky berhasil memberikan inspirasi besar bagi para peserta mahasiswa untuk melihat bahwa advokasi isu kesehatan dan HAM dapat diamplifikasi secara kreatif melalui berbagai media, termasuk musik.

Selain di Kota Malang, kampanye #TenangAdaGue juga dilakukan secara serentak di Kota Makassar dan Palembang.

Share this article

Ditulis oleh : Budi Larasati

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.