#TenangAdaGue: Gerakan Anak Muda Palembang Melawan Stigma dan Diskriminasi terhadap ODHIV

By Published On: June 9th, 2026

#TenangAdaGue: Gerakan Anak Muda Palembang Melawan Stigma dan Diskriminasi terhadap ODHIV

By Published On: June 9th, 2026

Di tengah berbagai upaya penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia, satu tantangan besar masih terus membayangi. Yakni, stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV (ODHIV). Padahal, kemajuan ilmu pengetahuan dan layanan kesehatan telah membuktikan bahwa HIV bukan lagi vonis mati. Dengan terapi Antiretroviral (ARV) yang dilakukan secara rutin dan dukungan sosial memadai, ODHIV dapat hidup sehat, produktif, dan memiliki kualitas hidup yang setara dengan masyarakat umum.

Akan tetapi, masih terdapat banyak ODHIV yang mengalami penolakan, penghakiman, hingga perlakuan diskriminatif di lingkungan sosial, pendidikan, maupun pekerjaan. Berangkat dari kondisi tersebut, kampanye #TenangAdaGue hadir di Kota Palembang melalui rangkaian kegiatan Youth-Vibe Festival: Eager to Thrive, sebuah gerakan yang melibatkan generasi muda untuk menjadi agen perubahan dalam menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan bebas dari stigma.

Membuka Ruang Aman untuk Belajar dan Berdiskusi

Kampanye #TenangAdaGue di Palembang diawali dengan kegiatan capacity building yang diselenggarakan di Universitas Tamansiswa Palembang. Acara ini melibatkan mahasiswa, dosen, organisasi kemahasiswaan, serta berbagai komunitas kepemudaan yang memiliki kepedulian terhadap isu kesehatan dan HAM.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Tamansiswa Palembang menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai ruang yang aman dan inklusif bagi seluruh individu tanpa memandang latar belakang maupun kondisi kesehatannya. Pesan tersebut menjadi landasan kuat bahwa kampus tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai ruang untuk menumbuhkan empati dan nilai-nilai kemanusiaan.

Ketua Yayasan Intan Maharani turut mengingatkan bahwa HIV-AIDS bukan semata persoalan medis, melainkan juga persoalan sosial yang membutuhkan keterlibatan dari seluruh elemen masyarakat. Generasi muda, menurutnya, memiliki posisi strategis untuk menyebarkan informasi yang benar sekaligus melawan stigma yang masih berkembang di masyarakat.

Meluruskan Mitos dan Membangun Pemahaman

Salah satu sesi utama dalam kegiatan ini adalah edukasi mengenai HIV-AIDS dan peran akademisi dalam mengubah paradigma sosial terhadap ODHIV. Peserta diajak untuk memahami bahwa HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, tetapi dapat dikendalikan melalui pengobatan yang tepat sehingga ODHIV dapat hidup sehat dan produktif, juga tidak menularkan penyakitnya kepada pihak lain.

Lebih dari itu, peserta juga diajak untuk membedakan antara fakta dan mitos yang selama ini berkembang. Masih banyak masyarakat yang percaya bahwa HIV dapat menular melalui pelukan, berjabat tangan, berbagi makanan, maupun gigitan nyamuk. Padahal, berbagai anggapan tersebut tidak benar.

Melalui sesi interaktif ‘Mitos atau Fakta,’ peserta memperoleh pemahaman yang lebih akurat mengenai cara penularan HIV sekaligus pentingnya pemeriksaan dini dan akses terhadap layanan kesehatan. Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam mengurangi ketakutan yang selama ini lahir dari minimnya informasi dan tingginya misinformasi.

Mengubah Cara Pandang terhadap ODHIV

Salah satu akar utama diskriminasi terhadap ODHIV adalah cara pandang masyarakat yang masih mengaitkan HIV dengan moralitas. Akibatnya, banyak ODHIV mengalami pengucilan dan kehilangan kesempatan untuk menjalani kehidupan yang bermartabat.

Melalui sesi Value Clarification and Attitude Transformation (VCAT), khususnya metode Reasons Why dan Cross the Line, peserta diajak untuk merefleksikan nilai, persepsi, serta sikap mereka terhadap HIV-AIDS dan kelompok rentan. Diskusi yang berlangsung secara terbuka ini membantu peserta untuk memahami bahwa kerentanan terhadap HIV dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan yang kompleks.

Kegiatan ini tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mendorong lahirnya empati. Peserta diajak melihat ODHIV sebagai manusia yang memiliki hak, harapan, dan kesempatan yang sama dengan orang lain. Pesan yang ingin disampaikan sederhana namun kuat, yakni ODHIV adalah sesame manusia, yang berhak atas penerimaan, penghormatan, dan dukungan.

Peran Anak Muda sebagai Agen Perubahan

Kampanye #TenangAdaGue menempatkan generasi muda sebagai motor utama perubahan sosial. Mahasiswa dan komunitas kepemudaan didorong untuk menjadi penyebar informasi yang benar, melawan hoaks terkait HIV, serta menciptakan ruang yang aman bagi siapa pun yang menghadapi kendala terkait dengan kesehatan.

Komitmen tersebut terlihat dalam sesi refleksi, ketika banyak peserta menyatakan keinginan untuk terlibat aktif dalam edukasi HIV-AIDS dan kampanye anti-stigma di lingkungan mereka masing-masing. Antusiasme peserta juga terlihat dari tingginya minat dalam sesi tanya jawab yang membahas mengenai pencegahan HIV, pengobatan ARV, hingga strategi mengurangi diskriminasi di masyarakat.

Kampanye Kreatif Menjangkau Lebih Banyak Orang

Semangat #TenangAdaGue tidak berhenti di ruang seminar. Pada hari berikutnya, kampanye dilanjutkan melalui booth interaktif di lingkungan kampus. Berbagai kegiatan edukatif seperti memory game, mitos dan fakta HIV, pohon harapan, serta posting konten media sosial berhasil menarik perhatian mahasiswa.

Melalui pendekatan kreatif, peserta dapat belajar mengenai HIV-AIDS tanpa merasa digurui. Mereka juga diajak untuk menuliskan harapan bagi Indonesia yang bebas stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV dan membagikannya melalui media sosial.

Kehadiran public figure Kak Ma’ah semakin memperluas jangkauan pesan kampanye. Melalui siaran langsung di media sosial, masyarakat yang tidak hadir secara langsung tetap dapat mengikuti kegiatan dan berinteraksi dengan tim kampanye. Banyak pertanyaan muncul dari audiens mengenai cara penularan HIV, yang menunjukkan bahwa kebutuhan akan edukasi masih sangat besar.

Bersama Mewujudkan Masyarakat Tanpa Stigma

Kampanye #TenangAdaGue di Palembang menunjukkan bahwa perubahan sosial dapat dimulai dari percakapan sederhana, edukasi yang tepat, dan keberanian untuk menunjukkan empati. Ketika masyarakat memahami fakta tentang HIV, ruang bagi stigma dan diskriminasi akan semakin sempit.

Melalui kolaborasi antara kampus, organisasi masyarakat sipil, komunitas, dan generasi muda, gerakan ini berhasil menanamkan pesan penting bahwa setiap orang berhak mendapatkan penghormatan dan kesempatan yang sama, termasuk ODHIV.

Pada akhirnya, melawan HIV bukan hanya tentang pengobatan dan pencegahan. Ini juga tentang membangun masyarakat yang lebih manusiawi, inklusif, dan penuh dukungan. Karena bagi ODHIV, satu kalimat sederhana dapat memberikan makna yang besar: “Tenang, ada gue.”

Selain di Kota Palembang, kampanye #TenangAdaGue juga dilakukan secara serentak di Kota Makassar dan Malang.

Share this article

Ditulis oleh : Budi Larasati

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.