#TenangAdaGue di Makassar: Menghapus Stigma dan Diskriminasi, Membangun Generasi Muda yang Lebih Peduli

HIV-AIDS masih menjadi salah satu tantangan kesehatan global yang membutuhkan perhatian serius, termasuk di Indonesia. Mengacu pada data dari Kementerian Kesehatan, pada tahun 2025 Indonesia menempati peringkat ke-14 dunia dalam jumlah Orang dengan HIV (ODHIV), dengan estimasi mencapai 564.000 orang. Selain itu, Indonesia juga berada di posisi ke-9 dunia untuk jumlah infeksi baru HIV. Di balik angka tersebut, terdapat persoalan lain yang tak genting, yakni stigma dan diskriminasi yang masih dialami oleh ODHIV dalam kehidupan sehari-hari.
Stigma sering kali membuat seseorang enggan melakukan tes HIV, takut mengakses layanan kesehatan, bahkan menunda pengobatan yang seharusnya bisa menyelamatkan nyawa mereka. Data Stigma Index 2.0 tahun 2024 menunjukkan bahwa stigma terhadap ODHIV di Indonesia masih berada pada tingkat yang mengkhawatirkan, dengan stigma eksternal mencapai 13,4% dan stigma internal sebesar 35,9%. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan HIV tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga perubahan cara pandang masyarakat.
Melihat tantangan tersebut, Indonesia AIDS Coalition (IAC) mencetuskan gerakan #TenangAdaGue, sebuah kampanye yang berfokus pada penghapusan stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV melalui pendekatan yang dekat dengan generasi muda. Pada awal Juni 2026, kampanye ini hadir di Kota Makassar melalui program Youth-Vibe Festival: Eager to Thrive, sebuah ruang kolaboratif yang mengajak anak muda untuk menjadi agen perubahan dalam menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan penuh empati.
Mengajak Mahasiswa Menjadi Bagian dari Solusi
Rangkaian kegiatan dimulai pada tanggal 3 Juni 2026 melalui program #TenangAdaGue Goes to Campus yang diselenggarakan di Universitas Negeri Makassar (UNM). Bertempat di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, kegiatan ini diikuti oleh 50 mahasiswa dari berbagai latar belakang.
Acara dibuka oleh Ketua Jurusan PPKN dan Hukum UNM, Dr. Nurharsya Khaer Hanafie, S.H., M.H., yang menyampaikan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif bagi semua orang, termasuk ODHIV. Kampus dinilai memiliki peran strategis dalam membentuk cara pandang generasi muda terhadap isu kesehatan dan HAM.
Setelah sesi pembukaan, peserta diajak mengikuti sesi Value Clarification and Attitude Transformation (VCAT), sebuah metode pembelajaran reflektif yang membantu peserta untuk mengevaluasi nilai, keyakinan, dan sikap mereka terhadap berbagai isu sosial yang berkaitan dengan HIV-AIDS.
Dalam sesi ini, khususnya Reasons Why, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan berbagai pertanyaan mendasar, seperti alasan seseorang menggunakan narkotika, faktor yang menyebabkan seseorang terinfeksi HIV, hingga mengapa kelompok tertentu sering mendapatkan stigma di masyarakat. Diskusi berlangsung terbuka dan menunjukkan bahwa banyak persoalan yang selama ini dianggap sederhana ternyata memiliki akar sosial, ekonomi, dan budaya yang kompleks.
Mengubah Ketakutan Menjadi Empati
Salah satu sesi utama dalam kegiatan ini menghadirkan Dr. Basti Tetteng, S.Psi., M.Si., yang membawakan materi bertajuk ‘Mengubah Ketakutan Menjadi Empati dan Inklusi: Menghapus Stigma dan Diskriminasi terhadap ODHIV di Lingkungan Kampus.’
Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa hambatan terbesar dalam penanggulangan HIV-AIDS saat ini bukan semata-mata virus, melainkan stigma yang membuat banyak orang takut untuk mengetahui status kesehatannya. Padahal, HIV tidak menular melalui interaksi sosial sehari-hari seperti berjabat tangan, berbagi makanan, maupun duduk berdekatan.
Peserta juga diperkenalkan pada konsep U=U (Undetectable = Untransmittable), atau TDTM (Tidak Terdeteksi Tidak Menularkan), yaitu kondisi ketika ODHIV menjalani terapi antiretroviral (ARV) secara rutin hingga jumlah virus dalam tubuh tidak terdeteksi. Dalam kondisi tersebut, HIV tidak dapat ditularkan kepada pasangan seksualnya. Informasi ini menjadi salah satu materi penting karena masih banyak masyarakat yang belum memahami tentang HIV-AIDS.
Lebih jauh, peserta diajak untuk menjadi ally atau pendukung bagi ODHIV dengan cara sederhana namun bermakna, seperti menghentikan penyebaran informasi yang salah, tidak menghakimi, serta menciptakan ruang yang aman bagi siapa pun untuk mendapatkan dukungan.
Merefleksikan Cara Pandang terhadap Kelompok Rentan
Kegiatan semakin menarik melalui permainan Cross the Line, yang mana peserta diminta untuk memberikan respons terhadap sejumlah pernyataan yang sering muncul di masyarakat terkait HIV-AIDS, orientasi seksual, dan kelompok rentan lain.
Hasil diskusi menunjukkan bahwa masih terdapat beragam pandangan di kalangan mahasiswa. Namun yang lebih penting, sesi ini membuka ruang dialog yang sehat dan mendorong peserta untuk memahami perspektif yang berbeda. Melalui pendekatan ini, peserta tidak hanya menerima informasi, tetapi juga diajak merefleksikan nilai-nilai yang mereka yakini selama ini.
Youth Champion: Suara Anak Muda untuk Perubahan
Sebagai bagian dari upaya keberlanjutan kampanye, IAC memilih sepuluh mahasiswa terbaik untuk menjadi Youth Champion #TenangAdaGue. Mereka dipersiapkan sebagai perwakilan generasi muda yang akan menyebarkan pesan anti-stigma dan edukasi HIV-AIDS di lingkungan kampus maupun komunitas masing-masing.
Peran anak muda menjadi sangat penting karena mereka memiliki kemampuan untuk menjangkau sesama teman sebaya melalui pendekatan yang lebih dekat, kreatif, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Antusiasme Tinggi dalam Kampanye di Kampus
Pada hari berikutnya, kampanye dilanjutkan melalui kegiatan kampanye di Pelataran Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum UNM. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang interaksi terbuka antara tim IAC, Youth Champion, dan sivitas akademika kampus.
Antusiasme mahasiswa, dosen, dan staf kampus sangat tinggi. Target kampanye yang semula direncanakan berlangsung selama lima hingga enam jam bahkan berhasil dicapai hanya dalam waktu sekitar tiga jam. Para Youth Champion berperan aktif dalam memberikan edukasi mengenai HIV-AIDS dan pentingnya menghapus stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV.
Dukungan penuh dari pihak universitas juga menjadi salah satu faktor keberhasilan kegiatan ini, termasuk melalui publikasi kampanye di kanal resmi kampus.
Bersama Menciptakan Lingkungan yang Lebih Inklusif
Kampanye #TenangAdaGue di Makassar membuktikan bahwa perubahan dapat dimulai dari ruang-ruang dialog yang aman dan terbuka. Melalui edukasi berbasis fakta, refleksi nilai, serta keterlibatan aktif generasi muda, stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV dapat perlahan dikurangi.
Lebih dari sekadar kegiatan kampanye, #TenangAdaGue mengajak masyarakat untuk melihat HIV dengan perspektif yang lebih manusiawi. Karena pada akhirnya, setiap orang berhak mendapatkan dukungan, penghormatan, dan kesempatan yang sama untuk hidup sehat dan berkembang tanpa rasa takut akan diskriminasi.
Dari Makassar, pesan itu kembali ditegaskan: ketika empati hadir, stigma dan diskriminasi tidak lagi memiliki tempat.
Selain di Kota Makassar, kampanye #TenangAdaGue juga dilakukan secara serentak di Kota Malang dan Palembang.
Share this article
Ditulis oleh : Budi Larasati
Follow us
Outline Artikel Ini







