Pelatihan Etika Medis Tanah Papua: Membangun Empati dan Profesionalisme Tenaga Kesehatan

By Published On: November 6th, 2025

Pelatihan Etika Medis Tanah Papua: Membangun Empati dan Profesionalisme Tenaga Kesehatan

By Published On: November 6th, 2025

Dalam rangka meningkatkan kualitas layanan kesehatan yang berpusat pada kebutuhan pasien, Dinas Kesehatan Kabupaten Jayawijaya bersama dengan Indonesia AIDS Coalition (IAC) menyelenggarakan Pelatihan Etika Medis pada tanggal 14-16 Oktober 2025. Kegiatan ini menjadi momen penting bagi tenaga kesehatan di Kab. Jayawijaya untuk merefleksikan nilai dan sikap dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Pelatihan dibuka oleh Ibu Theresia dari Dinas Kesehatan Kab. Jayawijaya, yang menekankan pentingnya menjaga integritas profesi bagi tenaga kesehatan. Sesi dilanjutkan oleh Alfan  dari IAC, yang menjelaskan tujuan kegiatan yakni memperkuat pemahaman peserta mengenai etika medis, juga mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap populasi kunci dalam layanan kesehatan.

Mengenal Nilai Diri dan Menghapus Stigma

Hari pertama pelatihan diawali dengan penggunaan metode VCAT (Value Clarification and Attitude Transformation), yang mana peserta diajak untuk mengenali nilai-nilai pribadi yang memengaruhi perilaku profesional mereka. Melalui diskusi ‘Reasons Why,’ peserta menggali berbagai alasan di balik perilaku berisiko seperti menjual seks. Fasilitator menekankan bahwa setiap individu memiliki alasan berbeda-beda dalam melakukan sesuatu, yang perlu dipahami tanpa stigma.

Sesi ‘Cross the Line’ menjadi momen reflektif ketika peserta menyadari betapa beragamnya pandangan mereka terhadap isu seksualitas dan HIV. “Kita tidak boleh melihat pasien dari sudut pandang kita, tetapi dari perspektif mereka,” ungkap salah satu peserta. Segmen VCAT kemudian diakhiri dengan sesi ‘Four Corners,’ yang mana peserta diminta untuk merefleksikan pendapat mereka mengenai suatu masalah dan melihat standar ganda yang ada.

Belajar tentang SOGIESC dan Empati dalam Memberikan Layanan

Hari kedua diisi dengan materi SOGIESC (Sexual Orientation, Gender Identity, Expression, and Sex Characteristics). Peserta diajak untuk memahami perbedaan antara seks biologis, orientasi seksual, serta identitas dan ekspresi gender. Fasilitator menegaskan pentingnya sensitivitas gender dan inklusivitas dalam pemberian layanan kesehatan. Melalui role play bersama Expert Patient Trainer (EPT), peserta berlatih menghadapi pasien dengan empati dan gaya komunikasi yang efektif.

“Masih ada rasa gugup, tapi saya belajar bagaimana membuat pasien merasa nyaman,” ujar salah satu peserta setelah sesi roleplay.

Etika Medis dan Pendekatan yang Berpusat pada Pasien

Pada hari ketiga, materi berlanjut dengan Person Centered Approach (PCA), yang menekankan pentingnya melihat pasien sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar kasus medis. Fasilitator memancing diskusi melalui video dan artikel yang menyoroti pelanggaran kode etik di media sosial. Peserta kemudian menganalisis gestur, bahasa, dan perilaku diskriminatif tenaga kesehatan yang dapat berdampak negatif bagi pasien.

Melalui kegiatan ini, para tenaga kesehatan di Kab. Jayawijaya tidak hanya memperdalam pemahaman mengenai etika profesi, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya empati, keadilan, dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Pelatihan Etika Medis ini diharapkan menjadi langkah nyata untuk mewujudkan layanan kesehatan yang lebih humanis, inklusif, dan berintegritas di Tanah Papua. Selain Kab. Jayawijaya, rangkaian Pelatihan Etika Medis Tanah Papua juga dilaksanakan di Kab. Mimika, Jayapura, dan Fakfak pada bulan Oktober 2025.

Share this article

Ditulis oleh : Budi Larasati