Uji Coba Modul Pre-Service IAC: Membentuk Dokter Muda yang Bebas Stigma dan Berorientasi pada Kebutuhan Pasien

By Published On: November 25th, 2025

Uji Coba Modul Pre-Service IAC: Membentuk Dokter Muda yang Bebas Stigma dan Berorientasi pada Kebutuhan Pasien

By Published On: November 25th, 2025

Upaya penanggulangan HIV tidak hanya bertumpu pada ketersediaan obat dan layanan, tetapi juga pada kualitas interaksi antara pasien dan tenaga kesehatan. Namun, calon dokter di Indonesia kerap memasuki dunia klinis tanpa kesiapan menghadapi realitas sosial, budaya, dan etika yang melingkupi isu HIV-AIDS. Kurikulum yang lebih menekankan pada aspek biomedis membuat stigma dan diskriminasi kerap muncul bukan karena niat buruk, melainkan karena kurangnya pemahaman dan ruang refleksi kritis.

Menjawab kesenjangan tersebut, Indonesia AIDS Coalition (IAC) melakukan uji coba modul pre-service HIV-AIDS bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (UNPAD). Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari pada tanggal 7–9 November 2025 ini dirancang untuk menguji apakah modul yang dikembangkan—berbasis pada HAM, empati, serta perspektif komunitas—dapat diterjemahkan secara efektif ke dalam konteks pendidikan kedokteran.

Membuka Kesadaran: Harapan dan Kekhawatiran

Kegiatan dibuka dengan sesi refleksi yang mengungkap harapan mahasiswa—mulai dari ingin memahami HIV-AIDS secara lebih mendalam hingga harapan menjadi dokter yang lebih manusiawi. Namun, kekhawatiran seperti takut tidak mampu menangkap materi, cemas akan stigma yang masih kuat, hingga takut tidak konsisten dalam proses belajar juga muncul. Dari diskusi awal, terlihat bahwa sebagian besar peserta bahkan belum pernah mendapatkan materi mengenai HIV-AIDS secara komprehensif di bangku kuliah.

Dr. Brian, selaku pemateri utama, menegaskan pentingnya memahami HIV-AIDS bukan hanya sebagai penyakit, tetapi sebagai fenomena sosial. Tanyakan—bagaimana calon dokter dapat merawat Orang dengan HIV (ODHIV) jika mereka sendiri tidak pernah berlatih menghadapi bias pribadi? Inilah ruang yang ingin diisi oleh modul pre-service.

Belajar Langsung dari Sumbernya: Klinik Mawar dan Komunitas

Pada hari kedua, mahasiswa dibagi menjadi dua kelompok: kunjungan ke Klinik Mawar, layanan ramah komunitas di Bandung, dan sesi dialog mendalam dengan perwakilan komunitas LSL, transgender, pekerja seks, dan pendamping sebaya.

Di Klinik Mawar, peserta melihat bagaimana layanan bebas stigma diterapkan secara nyata—mulai dari penggunaan bahasa non-judgmental, menjaga kerahasiaan pasien, hingga ruang khusus yang memberikan rasa aman bagi populasi kunci. Perubahan nama dari “Klinik IMS” menjadi “Klinik Mawar” menjadi contoh nyata bagaimana bahasa dapat memutus atau memperkuat stigma.

Sementara itu, dialog dengan komunitas membuka perspektif mahasiswa terhadap tantangan nyata: diskriminasi verbal, pemanggilan nama sesuai KTP tanpa menghargai identitas gender, hingga pengalaman ditolak layanan – untuk menyebutkan beberapa. Komunitas juga menceritakan perjuangan mereka membangun ruang aman, melakukan edukasi, dan melawan self-stigma.

Bagi mahasiswa, sesi ini menjadi salah satu momen paling mengubah cara pandang—bahwa pasien bukan sekadar “kasus”, melainkan manusia dengan pengalaman hidup yang kompleks.

Nilai, Bias, dan Ruang Refleksi Kritis

Hari ketiga diisi dengan sesi VCAT (Values Clarification and Attitude Transformation), metode untuk membantu peserta mengenali nilai pribadi, bias moral, dan bagaimana hal itu memengaruhi perilaku profesional. Melalui aktivitas seperti Cross the Line dan Four Corner, mahasiswa diuji untuk jujur pada diri sendiri menegnai isu-isu sensitif: homoseksualitas, pekerja seks, akses ke kondom, aborsi, dan hak remaja melakukan tes HIV.

Hasilnya sangat beragam—ada yang merasa tidak nyaman, ada yang menolak, ada pula yang terbuka. Namun yang paling penting, semua peserta belajar bahwa profesi kedokteran menuntut kemampuan seorang individu untuk menunda penilaian pribadi demi keselamatan dan menjaga martabat pasien.

Menuju Generasi Dokter yang Lebih Humanis

Uji coba modul pre-service ini memberi gambaran jelas bahwa intervensi semacam ini bukan hanya penting, tetapi mendesak. Mahasiswa kedokteran membutuhkan ruang untuk memahami HIV-AIDS secara holistik—bukan sekadar patologi, tetapi persoalan mengenai hak dan keadilan.

IAC, UNPAD, dan komunitas berhasil menunjukkan bahwa pendidikan kedokteran dapat menjadi titik awal memutus rantai stigma di fasilitas kesehatan. Di tangan dokter muda yang lebih peka, lebih manusiawi, dan lebih inklusif, penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia dapat bergerak menuju layanan yang inklusif bagi semua.

 

Share this article

Ditulis oleh : Budi Larasati