Mendorong Akses Publik yang Terjangkau ke Obat-Obatan dan Penghapusan Stigma: Laporan Kegiatan Kampanye Publik A2M dan Perempuan & Anak IAC di Universitas Binawan

Akses ke obat-obatan esensial merupakan pilar penting dari kesehatan publik dan indikator nyata bagi kesetaraan sosial. Namun, kenyataannya masih jauh dari ideal. Medecins Sans Frontieres (MSF) mencatat bahwa sepertiga penduduk dunia tidak memiliki akses ke obat-obatan esensial, bahkan angka tersebut meningkat menjadi setengah populasi di beberapa wilayah di Benua Afrika dan Asia. Ketidakmerataan ini berdampak luas, memperburuk kondisi kesehatan, meningkatkan penyebaran penyakit, dan menambah angka kematian yang sebenarnya dapat dicegah.
Di Indonesia, isu akses ke obat dan layanan kesehatan yang setara terus menjadi tantangan. Menjawab kebutuhan tersebut, Indonesia AIDS Coalition (IAC) secara konsisten melakukan advokasi bagi pemenuhan dan perlindungan hak-hak Orang dengan HIV (ODHIV) dan populasi kunci terdampak HIV. Termasuk hak bagi akses ke layanan dan komoditas kesehatan, juga hak bagi hidup yang bebas dari stigma dan diskriminasi.
Sebagai bagian dari upaya edukasi publik, IAC menyelenggarakan Kampanye Publik Access to Medicines (A2M) dan Perempuan & Anak di Universitas Binawan, Jakarta. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kritis kepada mahasiswa mengenai dampak dari monopoli paten terhadap akses publik yang terjangkau ke obat-obatan, juga stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV. Khususnya Perempuan dan Anak yang Hidup dengan HIV (PDHIV dan ADHIV).
Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan dari IAC dan dua orang staff Indonesia for Global Justice (IGJ). Sementara itu, pengunjung yang hadir didominasi oleh dosen dan mahasiswa dari Program Studi Kesejahteraan Sosial, Keperawatan, dan Farmasi Universitas Binawan.
Untuk melakukan kampanye edukatif yang menarik sekaligus mudah untuk dipahami oleh publik, IAC menghadirkan dua booth edukatif: Women & Children dan Access to Medicines (A2M). Setiap pengunjung dapat berdiskusi langsung dengan penjaga booth, membaca brosur, menonton klip kampanye dan episode kartun Timi & Mika, mengikuti permainan edukatif, juga mendapatkan merchandise seperti notes, stiker, pin, dan gantungan kunci.
Aktivitas yang paling diminati adalah foto bersama di photobooth dengan slogan dukungan dan cap jempol di kanvas sebagai simbol solidaritas terhadap anak dan perempuan dengan HIV. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga diajak untuk menunjukkan dukungan secara nyata.
Adapun, topik yang dibahas selama kegiatan kampanye mencakup informasi dasar mengenai HIV—pencegahan, penularan, hingga pengobatan—dan dilanjutkan dengan pembahasan lebih luas mengenai stigma, diskriminasi, serta populasi kunci yang paling rentan. IAC juga memperkenalkan rekam jejak organisasinya dan peluang kolaborasi dengan kampus, seperti seminar, workshop, talk show, magang, dan program pengabdian masyarakat.
IAC menekankan bahwa organisasi ini bekerja secara lintas isu, tidak hanya pada HIV-AIDS, tetapi juga pada perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM), akses terjangkau ke obat-obatan, pemberdayaan ekonomi (VSLA), pengakuan pekerja perawatan, serta pencegahan HIV pada perempuan dan anak.
Pada akhirnya, kegiatan kampanye selama dua hari ini menghasilkan sejumlah keluaran penting: peningkatan pemahaman mahasiswa tentang dampak dari paten obat terhadap hak publik atas kesehatan, penyebaran informasi mengenai pemenuhan hak PDHIV dan ADHIV, serta tumbuhnya partisipasi publik melalui tulisan dukungan. Antusiasme mahasiswa menunjukkan bahwa tenaga kesehatan dan kesejahteraan sosial masa depan memiliki peran strategis dalam memperjuangkan sistem kesehatan yang berkeadilan.
Melalui edukasi yang tepat, IAC berharap generasi muda dapat menjadi agen perubahan dalam mewujudkan akses ke layanan dan komoditas kesehatan yang setara bagi semua.
Share this article
Ditulis oleh : Budi Larasati
Follow us
Outline Artikel Ini







