Indonesia AIDS Coalition Gelar Evaluasi Program 2025 untuk Perkuat Keberlanjutan Respons HIV-AIDS Nasional

By Published On: January 15th, 2026

Indonesia AIDS Coalition Gelar Evaluasi Program 2025 untuk Perkuat Keberlanjutan Respons HIV-AIDS Nasional

By Published On: January 15th, 2026

Indonesia AIDS Coalition (IAC) kembali menegaskan perannya dalam program penanggulangan HIV-AIDS nasional dengan terpilih kembali sebagai Principal Recipient (PR) dana hibah The Global Fund–ATM untuk periode 2024–2026. Melalui mandat ini, IAC melanjutkan dua program utama, yaitu Penguatan Sistem Komunitas dan Pengurangan Hambatan terkait Hak Asasi Manusia untuk Akses ke Layanan Kesehatan (CSS-HR) dan Pencegahan HIV bagi Pekerja Seks Perempuan (FSW).

Dalam implementasinya, IAC bekerja bersama dengan para mitra, yang terdiri dari tiga Sub Recipient (SR) untuk program FSW, satu SR untuk program CSS-HR, serta empat mitra nasional yang beroperasi di 140 kabupaten/kota wilayah intervensi. Wilayah tersebut mencakup 34 kabupaten/kota intervensi CSS-HR dan 20 kabupaten/kota swakelola.

Hingga akhir tahun 2025, IAC bersama dengan para mitra telah menjalankan empat modular utama yang menjadi tanggung jawab PR melalui dua program tersebut. Adapun, kinerja program diukur melalui tujuh outcome indicator, empat coverage indicator, dan lima work plan tracking measure (WPTM). Untuk menilai capaian, mengidentifikasi tantangan, serta merumuskan langkah strategis ke depan, pada bulan Desember 2025, IAC menyelenggarakan Pertemuan Evaluasi Program Tahun 2025 dan Perencanaan Tahun 2026.

Ketua Badan Pengurus IAC, Aditya Wardhana, dalam sambutannya menyampaikan capaian membanggakan berupa serapan dana hibah yang sangat tinggi, mencapai sekitar 94–95% hingga akhir Desember 2025. Menurutnya, serapan ini mencerminkan komitmen IAC dalam menyalurkan amanah donor secara tepat sasaran kepada komunitas.

Ia juga menekankan pentingnya forum evaluasi sebagai ruang refleksi untuk mengapresiasi capaian, mengumpulkan bukti praktik baik, serta memastikan keberlanjutan program menuju siklus pendanaan the Global Fund berikutnya (2027–2029). Di tengah tantangan transisi pendanaan, IAC terus mendorong strategi keberlanjutan dan peningkatan peran negara dalam pendanaan program HIV-AIDS berbasis komunitas.

Paparan programatik disampaikan oleh Patrick Johanes L., selaku Manager Program IAC. Ia memaparkan bahwa capaian tes HIV nasional telah melampaui target 100%, meski masih terdapat tantangan pada inisiasi dan keberlanjutan terapi ARV dan tes Viral Load (VL). Temuan lapangan menunjukkan masih banyak kasus HIV yang terdeteksi pada tahap lanjut (advanced HIV disease), khususnya di rumah sakit.

Isu logistik juga menjadi perhatian, mulai dari penumpukan komoditas di satu wilayah hingga kekurangan di wilayah lain, juga potensi stock-out di masa mendatang. Selain itu, kebutuhan akan pendekatan inovatif seperti condom social marketing dan akses PrEP yang terjangkau terus didorong sebagai bagian dari strategi pencegahan.

Salah satu terobosan penting yang diperkenalkan adalah Learning Management System (LMS) sebagai platform pembelajaran komunitas. Melalui LMS, para peer leader dan pendamping lapangan dapat mengakses pelatihan terstandar terkait gender, HAM, manajemen lembaga, dan keuangan, lengkap dengan sertifikasi yang diakui.

Kolaborasi dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga membuka peluang Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), memungkinkan pengalaman kerja komunitas dikonversi menjadi kredit akademik. Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan profesionalisme dan pengakuan formal terhadap pekerja komunitas HIV-AIDS.

Pertemuan ini juga menampilkan kampanye kreatif melalui pemutaran video klip “Tak Pernah Sendiri” (#TenangAdaGue) bersama Bongki Ismail dari band Broderbong. Kampanye ini menekankan pentingnya empati dan keterlibatan publik yang lebih luas dalam isu HIV-AIDS, melampaui lingkup komunitas internal. Terakhir, para peserta dan panitia diarahkan untuk menuju break out room yang sesuai dengan masing-masing SR dan mitra nasional, guna mendiskusikan capaian programatik dan keuangan di tahun 2025.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan laporan serapan keuangan 2025, diskusi tata kelola keuangan dan perpajakan, serta sesi umpan balik dari para SR dan Sub Sub Recipient (SSR). Berbagai masukan menjadi bekal penting bagi penyempurnaan program ke depan.

Menutup pertemuan, Aditya Wardhana mengajak seluruh mitra untuk menyatukan suara dalam menghadapi tantangan pendanaan dan memastikan keberlanjutan upaya penanggulangan HIV-AIDS nasional. “Mari memulai semangat baru di tahun 2026, dengan kolaborasi yang lebih kuat dan dampak yang semakin nyata bagi komunitas,” tutupnya.

Share this article

Ditulis oleh : Budi Larasati