Micro Teaching Learning Management System (LMS) di Kota Bandung: Kolaborasi, Inovasi, dan Penguatan Kapasitas Digital

Kota Bandung menjadi lokasi dari rangkaian kegiatan Micro Teaching Learning Management System (LMS) yang diselenggarakan oleh tim Indonesia AIDS Coalition (IAC) pada tanggal 12–15 Januari 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat kapasitas pembelajaran digital melalui pemanfaatan LMS yang efektif, inklusif, dan berkelanjutan, sejalan dengan semangat Promoting Transparency, Accountability, and Civil Participation on AIDS Response yang dimiliki oleh IAC.
Rangkaian kegiatan diawali pada hari Senin, 12 Januari 2026, dengan perjalanan tim IAC dari Jakarta menuju Kota Bandung. Setibanya di Kota Bandung, tim langsung melakukan koordinasi internal guna mempersiapkan agenda utama, yakni transfer knowledge dan brainstorming untuk pengembangan LMS IAC. Koordinasi ini menjadi fondasi penting agar proses diskusi dan pembelajaran berjalan terarah dan menghasilkan rekomendasi yang tepat sasaran.
Pada hari Selasa, 13 Januari 2026, tim IAC melanjutkan kegiatan dengan kunjungan ke kantor konsultan Pilar Digital Oasis. Diskusi dimulai dengan sesi transfer knowledge terkait fitur LMS, baik dari sisi pengguna (learner) maupun administrator, mencakup dashboard hingga backend sistem. Dalam sambutannya, perwakilan tim IAC menyampaikan harapan agar proses ini dapat memberikan pemahaman menyeluruh, sehingga implementasi LMS di lapangan benar-benar memberikan manfaat nyata bagi banyak pihak.
Sesi dipandu oleh tim Pilar Digital Oasis yang menjelaskan sistem secara teoritis sekaligus praktis. Selain itu, disiapkan pula manual book sebagai panduan tertulis bagi tim IAC. Diskusi berkembang ke arah evaluasi dan penguatan sistem, menghasilkan berbagai masukan penting, mulai dari peningkatan pengalaman pengguna (UX), penataan menu dan terminologi, hingga penguatan fitur backup dan pelaporan. Salah satu sorotan utama adalah kebutuhan akan notifikasi error yang lebih informatif, visualisasi data penilaian yang mudah dipahami, serta pengelolaan peran pengguna yang berlapis dan lebih terstruktur.
Hari kedua, Rabu, 14 Januari 2026, difokuskan pada pengujian sistem LMS secara langsung. Tim IAC melakukan simulasi alur administrator, content manager, hingga akun pelajar (learner). Pengujian ini mencakup akses materi, pelaksanaan ujian, hingga pengalaman pengguna melalui perangkat seluler, mengingat mayoritas pengguna diperkirakan akan mengakses LMS melalui ponsel. Sejumlah catatan perbaikan pun muncul, seperti kendala reset password, kebutuhan validasi soal ujian yang belum terjawab, serta penambahan pop-up informasi sebelum ujian dimulai agar peserta lebih siap secara teknis.
Selain itu, muncul pula usulan seperti pengalihan otomatis dari materi terakhir ke menu ujian, pengaturan periode akses materi dan penilaian, serta pengembangan glosarium sebagai menu mandiri untuk memperkaya pemahaman istilah.
Rangkaian kegiatan ditutup pada Kamis, 15 Januari 2026, dengan rapat internal tim IAC untuk pembagian peran dan tanggung jawab dalam pengelolaan LMS ke depan. Hasil dari micro teaching ini diharapkan menjadi pijakan kuat dalam pengembangan LMS IAC yang lebih responsif terhadap kebutuhan pengguna, adaptif terhadap tantangan digital, dan mampu mendukung proses pembelajaran yang berkualitas.
Share this article
Ditulis oleh : Budi Larasati
Follow us
Outline Artikel Ini







