Memperkuat Kemitraan dan Akuntabilitas: Pertemuan PR–SR–SSR & Pelatihan HRIS di Jakarta

By Published On: May 5th, 2026

Memperkuat Kemitraan dan Akuntabilitas: Pertemuan PR–SR–SSR & Pelatihan HRIS di Jakarta

By Published On: May 5th, 2026

Sebagai Principal Recipient (PR) hibah untuk program Penanggulangan HIV-AIDS the Global Fund AIDS, Tuberculosis, and Malaria (GF-ATM) di Indonesia, Indonesia AIDS Coalition (IAC) kini memasuki tahun terakhir implementasi program siklus GC7 sekaligus hendak mempersiapkan proposal untuk siklus pendanaan berikutnya. Momentum ini dimanfaatkan sebagai latar belakang dari penyelenggaraan kegiatan pertemuan nasional yang mempertemukan Sub Recipient (SR) dan Sub Sub Recipient (SSR) guna memperkuat strategi implementasi program tahun 2026 dan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan sumber daya, khususnya melalui pelatihan Human Resources Information System (HRIS).

Pertemuan yang berlangsung pada tanggal 14-17 April 2026 di Jakarta ini menjadi ruang konsolidasi penting bagi mitra pelaksana yang bekerja di 140 kabupaten/kota wilayah intervensi program Pencegahan HIV-AIDS bagi Pekerja Seks Perempuan (FSW), termasuk wilayah prioritas Penguatan Sistem Komunitas dan Pengurangan Hambatan terkait HAM (CSS-HR) dan Swakelola.

Kegiatan dibuka pada tanggal 14 April dengan kedatangan peserta dan sesi pembukaan. Pertemuan ini memiliki tiga tujuan utama, yakni:

  1. Sosialisasi perkembangan pendanaan GF-ATM kepada mitra IAC.
  2. Menyusun strategi akselerasi capaian program tahun 2026 dan kontribusi mitra dalam penyusunan proposal siklus berikutnya.
  3. Memberikan pemahaman mengenai tata cara penggajian melalui HRIS.

Tahun 2026 menjadi periode krusial karena Indonesia memasuki fase transisi pendanaan GF sebagai negara berpenghasilan menengah-atas. Kondisi ini menuntut penguatan kemandirian pembiayaan kesehatan domestik dan strategi keberlanjutan layanan HIV-AIDS berbasis komunitas.

Hari kedua pertemuan membahas arah strategi nasional HIV-AIDS yang merujuk pada RAN HIV 2026-2030 dan hasil Joint Program Review (JPR) periode 2021–2025. Target global Triple 95s menjadi landasan utama penyusunan strategi. Adapun, beberapa tantangan yang disoroti adalah peningkatan kasus Advanced HIV Disease (AHD) , tingginya angka Lost to Follow Up (LTFU), rendahnya capaian tes Viral Load (VL), sert akebutuhan integrasi layanan HIV-AIDS dengan Hepatitis C, TB, dan kanker serviks.

Hasil JPR juga menunjukkan sejumlah perkembangan penting, seperti ekspansi PrEP yang signifikan dan keberhasilan implementasi Community-Led Monitoring (CLM) yang mulai mendapat dukungan kebijakan dari beberapa dinas kesehatan daerah.

Namun, penurunan anggaran sekitar 31% dari GC7 ke GC8 menuntut prioritisasi program dan peningkatan efisiensi. Investasi GF yang selama ini berfokus pada layanan berbasis komunitas juga menimbulkan tantangan keberlanjutan seiring berkurangnya pendanaan eksternal.

Setelah kegiatan bersama di ballroom, peserta kemudian dipecah menjadi beberapa kelas sesuai dengan SR. Yakni kelas PKBI Jakarta, Kalandara, Yayasan Kerti Praja (YKP), dan OPSI. Juga terdapat kelas khusus untuk pembelajaran HRIS.

Pelatihan HRIS sendiri bertujuan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan sumber daya manusia, khususnya proses penggajian staf. HRIS menjadi bagian dari integrasi sistem keuangan IAC dan mitra melalui Financial Management Information System (FMIS) sesuai arahan GF. Dengan sistem ini, diharapkan proses penggajian akan menjadi lebih transparan, terdokumentasi, dan sesuai standar akuntabilitas internasional. Pelatihan ini juga menekankan pentingnya tata kelola organisasi yang kuat sebagai fondasi keberlanjutan program di tengah perubahan lanskap pendanaan global.

Pertemuan ditutup pada tannggal 17 April dengan penyerahan sertifikat pelatihan HRIS dan refleksi hasil kegiatan. Dalam sesi penutupan, disampaikan beberapa rencana strategis ke depan, yang mencakup tetapi tidak terbatas pada pilot kegiatan Condom Social Marketing (CSM) di tiga kota dan pelaksanaan kampanye “Tenang Ada Gue” di Palembang, Malang, Makassar, dan Jakarta yang melibatkan komunitas, universitas, dan influencer lokal.

Pertemuan PR–SR–SSR ini menegaskan bahwa kolaborasi, transparansi, dan inovasi adalah kunci menghadapi fase transisi pendanaan GF. Melalui penguatan strategi program, peningkatan kapasitas mitra, serta penerapan sistem HRIS, IAC bersama mitra optimistis dapat menjaga keberlanjutan layanan HIV-AIDS berbasis komunitas di Indonesia.

Share this article

Ditulis oleh : Budi Larasati