Membangun Perspektif Inklusif: Peningkatan Kapasitas Stakeholder BRIN dan PBHI tentang SOGIE, HIV 101, dan VCAT

Upaya penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan aspek kesehatan, tetapi juga erat dengan isu Hak Asasi Manusia (HAM). Utamanya sehubungan dengan stigma dan diskriminasi yang hingga kini kerap kali dialami oleh Orang dengan HIV (ODHIV) dan kelompok populasi kunci. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Indonesia AIDS Coalition (IAC) menyelenggarakan kegiatan peningkatan kapasitas bagi stakeholder terkait, yakni Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI). Kegiatan selama empat hari ini menjadi ruang belajar bersama untuk memperkuat pemahaman mengenai HIV-AIDS, konsep Sexual Orientation, Gender Identity, Expression, and Sex Characteristics (SOGIE-SC), serta klarifikasi nilai pribadi melalui metode Value Clarification and Attitude Transformation (VCAT).
Sejak sesi pembukaan, pesan kuat disampaikan bahwa HIV-AIDS bukan sebatas pada isu medis semata. Ketua Badan Pengurus IAC menegaskan bahwa HIV-AIDS adalah persoalan sosial yang membutuhkan regulasi, pemantauan, serta edukasi yang berkelanjutan. Stigma dan diskriminasi yang masih kerap terjadi menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas dan perubahan perspektif menjadi sebuah kebutuhan, khususnya bagi stakeholder yang bersinggungan dengan ODHIV dan populasi kunci dalam kerja-kerjanya.
Ruang Aman untuk Belajar dan Melakukan Refleksi
Kegiatan diawali dengan sesi perkenalan yang dirancang untuk membangun keakraban antar peserta. Melalui metode berpasangan, peserta saling memperkenalkan latar belakang, pengalaman, dan cerita personal. Pendekatan ini menjadi fondasi sebelum memasuki diskusi yang lebih sensitif dan reflektif.
Sesi VCAT “Reasons Why” kemudian membuka diskusi mendalam mengenai berbagai fenomena sosial seperti pekerja seks, penggunaan narkotika, Lelaki Berhubungan Seks dengan Lelaki (LSL), transpuan, hingga penularan HIV. Peserta dibagi menjadi kelompok kecil dan diminta untuk menuliskan sebanyak mungkin alasan di balik fenomena tersebut. Metode ini mendorong peserta melihat isu dari berbagai sudut pandang, bukan sekadar dari nilai pribadi.
Refleksi yang muncul menunjukkan perubahan perspektif yang signifikan. Peserta menyadari bahwa fenomena sosial sering kali lebih dekat dari yang dibayangkan, bahkan hadir di lingkungan sekitar tetapi tersembunyi oleh stigma. Diskusi juga mengungkap paradoks antara pengetahuan dan tindakan, juga pentingnya empati dalam melihat realitas sosial yang ada.
Menguji Perspektif melalui Interaksi Aktif
Sesi VCAT “Cross the Line” menjadi salah satu bagian yang paling menarik. Peserta diminta untuk menanggapi berbagai pernyataan sensitif terkait seksualitas, status HIV, hingga peran lingkungan dan masyarakat dalam membentuk dan melanggengkan stigma. Aktivitas ini memperlihatkan keberagaman pandangan sekaligus membuka ruang dialog tanpa menghakimi.
Melalui metode ini, peserta belajar bahwa pengalaman personal sangat memengaruhi cara pandang seseorang. Diskusi menunjukkan pentingnya menjaga kerahasiaan status HIV seseorang, sekaligus menyeimbangkannya dengan kebutuhan atas dukungan sosial, dukungan pengobatan, dan pencegahan penularan.
Sesi “4 Corners” melanjutkan proses refleksi dengan mengajak peserta “memakai sepatu orang lain.” Peserta diminta untuk memahami sudut pandang yang berbeda dari keyakinan pribadi. Banyak peserta mengaku kegiatan ini memperkuat empati dan membantu mereka untuk melihat realitas sosial secara lebih bijak.
Memahami SOGIE-SC dan Risiko Penularan HIV
Pada hari kedua, peserta mendalami konsep SOGIE-SC. Melalui diskusi dengan menggunakan alat bantu gender bread person, peserta belajar memahami keragaman gender dan seksualitas secara ilmiah dan non-diskriminatif.
Simulasi wildfire menjadi momen yang kuat secara emosional. Dengan analogi jabat tangan, peserta merasakan bagaimana penularan HIV dapat meluas jika tes tidak dilakukan. Aktivitas ini menekankan pentingnya tes HIV, keterbukaan informasi, dan akses terjangkau ke layanan kesehatan.
Memperkuat Pengetahuan HIV-AIDS dan Perspektif HAM
Materi HIV 101 memberikan pemahaman mendasar mengenai perbedaan antara HIV dan AIDS, cara penularan, metode pencegahan, terapi Antiretroviral (ARV), serta mitos yang masih berkembang di masyarakat. Diskusi menyoroti pentingnya empati dan dukungan bagi ODHIV, termasuk dalam konteks layanan di lembaga pemasyarakatan.
Sesi penutup membahas stigma, diskriminasi, dan pelanggaran HAM. Peserta bekerja dalam kelompok untuk mengidentifikasi kasus nyata terkait hak atas kesehatan, privasi, pendidikan, pekerjaan, serta partisipasi kebijakan bagi populasi kunci. Diskusi ini menegaskan bahwa pendekatan berbasis HAM harus menjadi landasan dalam pembentukan kebijakan dan pelaksanaan riset.
Menuju Kolaborasi dan Dampak Berkelanjutan
Kegiatan ditutup dengan pemetaan intervensi program HIV-AIDS, termasuk target global Triple 95s dan strategi kolaborasi lintas sektor. Peserta sepakat bahwa peningkatan kapasitas ini bukan akhir, melainkan awal dari kerja bersama untuk menghasilkan riset, kebijakan, dan edukasi yang lebih inklusif.
Melalui kegiatan ini, BRIN dan PBHI memperoleh perspektif baru yang lebih komprehensif mengenai HIV-AIDS, SOGIE-SC, dan pendekatan berbasis HAM. Harapannya, pengetahuan dan empati yang terbangun dapat diterjemahkan menjadi kebijakan dan praktik yang lebih adil, inklusif, dan berdampak bagi masyarakat luas.
Share this article
Ditulis oleh : Budi Larasati
Follow us
Outline Artikel Ini







