Meningkatkan Literasi Caregiver untuk Mendukung Kepatuhan ARV Anak dengan HIV

Indonesia menghadapi tantangan mendesak dalam upaya meningkatkan penanganan Anak dan Remaja dengan HIV (ADHIV). Data SIHA per bulan Juni 2025 mencatat 1.130 anak hidup dengan HIV, dan sekitar 30% di antaranya belum memulai terapi Antiretroviral (ARV). Kondisi ini sangat memprihatinkan, mengingat tanpa pengobatan yang tepat, separuh dari anak yang terinfeksi berisiko meninggal sebelum usia dua tahun.
Sebagai bentuk respons terhadap kondisi tersebut, Indonesia AIDS Coalition (IAC) bersama PKBI Kota Bandung menyelenggarakan kegiatan Caregiver CLHIV Workshop pada tanggal 22 Oktober 2025 di Kota Bandung. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran dan dialog bagi para pengasuh (caregiver) ADHIV untuk meningkatkan pemahaman mereka terkait pengobatan ARV dan strategi komunikasi yang tepat dalam mengungkapkan status HIV anak sesuai usia (age-appropriate disclosure).
Workshop dibuka dengan sesi berbagi ekspektasi peserta, yang sebagian besar berharap mendapatkan pengetahuan praktis dalam merawat dan mendampingi ADHIV. Dua topik utama yang disampaikan adalah literasi pengobatan dan strategi disclosure yang sesuai dengan usia.
Pada sesi literasi pengobatan, narasumber menjelaskan pentingnya caregiver memahami jenis dan bentuk sediaan obat—mulai dari tablet, kapsul, sirup, hingga suspensi—dan cara pemberian yang aman dan tepat. Caregiver diajarkan membaca label obat dengan benar, memahami dosis berdasarkan berat badan anak, serta mengenali tanda-tanda efek samping. “Jangan pernah menyebut obat sebagai permen,” pesan narasumber, “karena anak harus memahami bahwa ini adalah bagian dari proses penyembuhan, bukan hadiah.”
Selain itu, peserta juga mempelajari perbedaan antara obat paten dan obat generik, juga pentingnya menyimpan obat dengan benar agar kualitasnya terjaga. Penekanan utama sesi ini adalah bahwa konsistensi adalah kunci keberhasilan terapi HIV jangka panjang—ARV harus diminum setiap hari, tepat dosis dan cara, untuk mencegah resistensi obat dan menjaga agar virus tetap tertekan.
Topik kedua, age-appropriate disclosure, mengangkat isu sensitif yang sering dihadapi caregiver: kapan dan bagaimana menjelaskan status HIV kepada anak. Banyak peserta mengungkapkan ketakutannya terhadap stigma sosial yang mungkin dialami anak bila statusnya diketahui. Melalui diskusi terbuka, peserta diajak memahami bahwa disclosure bukan sekadar menyampaikan informasi medis, melainkan proses membangun kepercayaan dan kemandirian anak dalam mengelola kesehatannya.
Para narasumber memperkenalkan panduan bertahap: anak usia 0–2 tahun belum perlu diberi tahu tentang statusnya, usia 3–5 tahun diperkenalkan konsep hidup sehat, usia 6–9 tahun mulai dijelaskan tentang penyakit secara umum, dan pada usia 10 tahun ke atas dilakukan disclosure penuh. Namun, pendekatan ini tetap harus disesuaikan dengan kesiapan emosional anak dan dukungan lingkungan keluarga.
Peserta juga dilatih menggunakan bahasa ramah anak, seperti “kuman jahat” atau “obat malam”, untuk membantu anak memahami konsep HIV tanpa rasa takut. Diskusi kemudian berlanjut dengan refleksi emosional tentang bagaimana caregiver menghadapi rasa sedih, marah, atau kelelahan dalam mendampingi anak mereka.
Kegiatan ditutup oleh Ibu Nunuk dari PKBI Bandung, yang menyampaikan rencana lanjutan berupa pertemuan antara caregiver dan anak dengan HIV pada tanggal 26 Oktober 2025. Workshop ini tidak hanya memperkuat literasi medis, tetapi juga mempererat jejaring dukungan bagi keluarga yang hidup dengan HIV. Dengan caregiver yang berdaya dan paham pengobatan, peluang bagi anak-anak untuk tumbuh sehat dan mencapai kualitas hidup yang baik semakin besar.
Share this article
Ditulis oleh : Budi Larasati
Follow us
Outline Artikel Ini







