Penguatan Kapasitas Leader Komunitas: Pelatihan Safety & Security untuk Ketahanan dan Resiliensi

By Published On: September 4th, 2025

Penguatan Kapasitas Leader Komunitas: Pelatihan Safety & Security untuk Ketahanan dan Resiliensi

By Published On: September 4th, 2025

Isu penguatan sistem komunitas dan Hak Asasi Manusia (HAM) bagi kelompok ragam gender dan seksualitas masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Aksi penggerebekan, diskriminasi, dan kekerasan kerap terjadi, yang melanggar hak-hak dasar seperti rasa aman, kebebasan berekspresi, dan penghormatan terhadap identitas. Melihat kondisi tersebut, pelatihan Safety & Security bagi Leader Komunitas yang diselenggarakan oleh Indonesia AIDS Coalition (IAC) pada tanggal 19–22 Agustus 2025 menjadi ruang penting untuk membangun ketahanan komunitas sekaligus memperkuat kapasitas para pembela HAM di tingkat akar rumput.

Hari Pertama: Pengenalan dan Situasi Krisis

Kegiatan dimulai dengan perkenalan peserta dan pemaparan modular Community System Strengthening-Human Rights (CSS-HR) oleh Staf Advokasi IAC. Ia menjelaskan berbagai komponen pendukung, mulai dari advokasi, paralegal, hingga jaringan teknis di berbagai provinsi. Sesi ini dilanjutkan dengan pemutaran video yang menggambarkan situasi komunitas LGBTQ+ di Indonesia, guna memantik diskusi mengenai ancaman keamanan yang kerap dihadapi.

Hari Kedua: Belajar dari KKWK 2000

Momen bersejarah peristiwa penggerebekan Kerlap-Kerlip Warna Kedaton (KKWK) 2000 di Kaliurang diangkat sebagai pembelajaran. Diskusi menyoroti pentingnya dokumentasi, strategi berjejaring, dan keamanan holistik. Peserta diajak memahami perbedaan antara safety, security, risiko, ancaman, kapasitas, serta kerentanan. Koordinator Porgram dari IAC menegaskan bahwa krisis bisa muncul dalam bentuk serangan fisik, pengusiran, hingga penangkapan yang dilandasi oleh sentimen diskriminatif, sehingga identifikasi cepat dan strategi respons menjadi kunci.

Hari Ketiga: Kesadaran Situasional dan Keterampilan Praktis

Materi dari Kementerian HAM menekankan peran negara dalam melindungi kelompok marjinal, termasuk melalui RANHAM 2023. Materi dilanjutkan dengan pelatihan mengenai Kesadaran Situasional, yang peserta belajar mengenali tanda bahaya, memetakan jalur evakuasi, hingga menyusun rencana keamanan sebelum, saat, dan setelah kegiatan.

Selain itu, sesi Public Speaking membantu peserta mengasah kemampuan komunikasi publik—sebuah keterampilan penting untuk advokasi. Mereka juga mendalami literasi digital melalui materi keamanan online: mulai dari perlindungan akun media sosial, pencegahan peretasan, hingga penanganan ancaman doxxing.

Hari Keempat: Refleksi dan Rencana Tindak Lanjut

Hari terakhir ditutup dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL). Setiap wilayah menyusun strategi enam bulan ke depan, guna memastikan adanya mekanisme saling dukung lintas komunitas ketika terjadi krisis. Staf Advokasi IAC menutup pelatihan dengan sesi relaksasi dan refleksi, menekankan pentingnya kesehatan mental bagi para pembela HAM.

Berbagai organisasi peserta melaporkan hasil positif. Misalnya, Gaya Dewata mulai berdialog dengan Satpol PP meski masih menemui resistensi; Gaylam dipercaya menjadi bagian dari Festival Umat Beragama di Bandar Lampung; dan Gaya Nusantara memperkuat kerja sama dengan Dinas Kesehatan Surabaya melalui dukungan APBD. Strategi-strategi komunitas dalam menghadapi persekusi di Jakarta, Bekasi, dan Bali pun dibagikan, yang memperkaya praktik baik antarwilayah.

Pelatihan ini menunjukkan bahwa keamanan komunitas tidak hanya soal perlindungan fisik, tetapi juga mencakup strategi komunikasi, penguatan organisasi, literasi digital, hingga kepemimpinan. Dengan kapasitas yang lebih kuat, leader komunitas dapat menjadi garda depan yang tangguh dalam melindungi hak dan martabat anggotanya.

Share this article

Ditulis oleh : Budi Larasati