Sinergi 5 Principal Recipient (PR) Global Fund untuk HIV-AIDS, TB, dan Malaria: Menuju Integrasi Program di Tanah Papua

Lima Principal Recipient (PR) penerima hibah Global Fund untuk program HIV-AIDS, TB, dan Malaria di Indonesia berkumpul dalam pertemuan strategis di Bogor, pada tanggal 8-10 Oktober 2025. Pertemuan yang difasilitasi oleh Indonesia AIDS Coalition (IAC) ini dihadiri oleh Kementerian Kesehatan; Yayasan Spiritia; STPI-Penabulu; Perdhaki; CCM Indonesia; TWG untuk program HIV-AIDS, TB, dan malaria; UNAIDS; serta Inti Muda.
Maksud dari pertemuan adalah satu, yakni menyatukan langkah dan mendiskusikan strategi integrasi program HIV-AIDS–TB–Malaria di Tanah Papua, wilayah dengan beban epidemi tertinggi dan tantangan struktural paling kompleks di Indonesia.
Papua: Tantangan dan Urgensi Kolaborasi
Tanah Papua mencerminkan ketimpangan ekstrem dalam distribusi penyakit menular. Dengan prevalensi HIV-AIDS di masyarakat umum mencapai 2,3%—bahkan 2,9% di Papua Pegunungan—wilayah ini menghadapi tantangan besar berupa sulitnya akses geografis, keterbatasan fasilitas kesehatan, dan keberagaman budaya yang memengaruhi perilaku kesehatan masyarakat.
Sebagian besar kasus baru HIV-AIDS terjadi pada remaja usia 15–24 tahun, terutama perempuan muda. Hal ini menegaskan pentingnya pendekatan pendidikan seksual komprehensif dan berbasis komunitas, agar intervensi tidak berhenti pada aspek medis semata, tetapi juga sosial dan kultural.
Sinergi 5 PR untuk Integrasi Program
Dalam sesi pembukaan, IAC menekankan pentingnya strategi out of the box untuk menjawab kebutuhan masyarakat Papua. Masing-masing PR kemudian memaparkan fokus programnya:
- IAC mengusung program Comprehensive Sexuality Education bagi remaja perempuan dan perempuan muda (AGYW) melalui tokoh agama dan perempuan, guna menekan stigma dan meningkatkan kesadaran mengenai HIV-AIDS.
- Yayasan Spiritia berfokus pada penguatan dukungan sebaya bagi Orang dengan HIV (ODHIV), partner notification, serta pelatihan pendamping sebaya.
- STPI–Penabulu memperkuat penanggulangan TB berbasis komunitas dengan pendekatan Community-Led Monitoring (CLM).
- Perdhaki menjalankan program Kader PERKASA—kader desa yang menangani HIV-AIDS, TB, dan malaria sekaligus.
- Kementerian Kesehatan dan TWG menekankan perlunya panduan dan mekanisme insentif terpadu agar integrasi berjalan efektif di lapangan.
Diskusi menghasilkan beberapa poin kunci: tidak perlu membentuk kader baru, melainkan menggabungkan kader yang sudah ada dari berbagai PR. Integrasi berbasis kampung, adat, dan budaya lokal dianggap sebagai strategi paling efektif untuk memastikan keberlanjutan program.
CLM: Data untuk Advokasi
Sesi berikutnya membahas integrasi Community-Led Monitoring (CLM) antar PR. Standarisasi indikator, sertifikasi paralegal, serta pembentukan dashboard digital lintas program menjadi fokus utama. CLM dipandang bukan hanya sebagai alat pelaporan, tetapi juga sarana advokasi dua arah antara komunitas dan pembuat kebijakan.
Menuju Satu Peta, Satu Strategi
Pertemuan tiga hari ini menghasilkan roadmap integrasi program HIV-AIDS–TB–Malaria di Tanah Papua, yang mencakup:
- Pemetaan wilayah intervensi dan beban kerja kader.
- Pelatihan lintas isu bagi kader dan petugas layanan.
- Sistem insentif terpadu berbasis kinerja.
- Platform digital CLM terintegrasi untuk pemantauan bersama.
TWG HIV menegaskan bahwa integrasi berbasis komunitas akan menjadi prioritas dalam siklus hibah Global Fund GC8. Dengan semangat kolaborasi dan pendekatan yang menghormati budaya lokal, pertemuan ini menandai langkah baru menuju Papua yang lebih sehat, inklusif, dan berkeadilan kesehatan bagi semua.
Share this article
Ditulis oleh : Budi Larasati
Follow us
Outline Artikel Ini







