Supervisi Lapangan Tim IAC ke Kabupaten Indramayu dan Serang: Perkuat Layanan HIV-TB dan Pemberdayaan Komunitas Rentan

Epidemi HIV di Indonesia terus menjadi tantangan kesehatan masyarakat. Pada tahun 2025, estimasi Orang dengan HIV (ODHIV) mencapai 564.000, meningkat 11% dari tahun sebelumnya. Hampir 27.000 infeksi baru muncul tiap tahun, dan setengahnya terjadi pada remaja serta anak muda. Untuk menjawab kondisi tersebut, Indonesia AIDS Coalition (IAC), melalui dukungan dari Aidsfonds, menjalankan program yang bertajuk CHAMPION-ID, yang berfokus pada peningkatan akses ke layanan HIV pediatrik dan pemberian dukungan bagi perempuan hamil/menyusui dan Anak dengan HIV (ADHIV).
Pada bulan November 2025, IAC melakukan supervisi lapangan ke Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Serang untuk memantau perkembangan program, mengidentifikasi tantangan, serta menilai potensi perluasan intervensi, termasuk integrasi multi-penyakit antara HIV-AIDS dan TB.
Menggali Kebutuhan di Lapangan: Indramayu
Program CHAMPION-ID telah berjalan selama tujuh bulan di Kabupaten Indramayu. Kunjungan dimulai dengan koordinasi bersama Community Health Worker (CHW) dan tenaga kesehatan di PKM Terisi. Tim menemukan bahwa integrasi layanan HIV–TB sudah berjalan baik melalui one stop service, di mana pasien dengan dugaan TB dapat langsung diperiksa dan diobati tanpa birokrasi panjang. Layanan TPT, TCM, dan PDP tersedia, dan pengobatan TB gratis bagi peserta BPJS yang terdaftar di PKM Terisi.
Meski begitu, tetap ditemukan adanya tantangan. Capaian penjangkauan anak masih rendah, stigma dari keluarga dan lingkungan masih terjadi, serta banyak pasien menghadapi kendala ekonomi terutama untuk transportasi menuju fasilitas kesehatan. Kelompok dukungan dinilai penting, tetapi masih perlu dilakukan mitigasi risiko untuk mencegah penularan TB.
Di sisi pemberdayaan, IAC mendapati satu kelompok VSLA (Village Savings and Loan Association) telah terbentuk di Karangampel. Kelompok ini bukan hanya sebagai tempat menabung, tetapi juga ruang penguatan mental bagi Perempuan dengan HIV (PDHIV) dan caregiver ADHIV. Mereka merencanakan usaha produksi celana, yang memanfaatkan keterampilan menjahit yang dimiliki sebagian anggota. Melalui diskusi dengan Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak (DP3A), dan Dinas Sosial, terlihat peluang untuk sinergi lintas organisasi dalam meningkatkan kesejahteraan komunitas.
Menilai Potensi Intervensi Baru: Serang
Di Kabupaten Serang, tim melakukan asesmen potensi wilayah pesisir sebagai target intervensi baru. Wilayah ini didominasi oleh nelayan, petani, buruh harian, dan ibu rumah tangga dengan tingkat pendidikan rendah. Meski stigma layanan sudah minimal, stigma di masyarakat masih banyak ditemukan.
Tim bertemu dengan tenaga kesehatan, pendamping sebaya, dan perwakilan OPD untuk menggali dinamika layanan dan kesempatan kolaborasi. Serang memiliki lima kelompok dukungan sebaya aktif, yang secara mandiri mempertahankan pertemuan bulanan tanpa dukungan transport. Hal ini menunjukkan tingginya motivasi komunitas dalam menjaga kepatuhan pengobatan.
Dinas Kesehatan Serang menyampaikan bahwa program pemberdayaan seperti CHAMPION-ID sangat strategis, terutama mengingat rendahnya capaian 3E pada ibu hamil dan minimnya mekanisme dukungan ekonomi bagi pasien. Dinas Pemberdayaan Perempuan juga membuka peluang untuk integrasi pelatihan keterampilan seperti memasak, menjahit, dan tata rias.
Kesimpulan: Peluang Besar untuk Penguatan Komunitas
Supervisi lapangan ini memperlihatkan bahwa Indramayu dan Serang memiliki potensi besar untuk penguatan layanan HIV–TB berbasis komunitas. Dengan dukungan OPD, fasilitas kesehatan, dan kelompok masyarakat, CHAMPION-ID dapat menjadi model pemberdayaan yang tidak hanya meningkatkan kualitas layanan, tetapi juga daya tahan ekonomi penerima manfaat.
Share this article
Ditulis oleh : Budi Larasati
Follow us
Outline Artikel Ini







