Uji Coba Modul Pre-Service HIV di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana: Membentuk Dokter Muda yang Humanis, Inklusif, dan Bebas Stigma

By Published On: November 25th, 2025

Uji Coba Modul Pre-Service HIV di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana: Membentuk Dokter Muda yang Humanis, Inklusif, dan Bebas Stigma

By Published On: November 25th, 2025

Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam penanggulangan HIV-AIDS, bukan hanya dari sisi medis, tetapi juga dari sisi kualitas interaksi antara tenaga kesehatan dan pasien. Stigma, miskomunikasi, serta minimnya pemahaman terhadap populasi kunci sering kali menghambat layanan. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Indonesia AIDS Coalition (IAC) melakukan uji coba Modul Pre-Service HIV-AIDS bagi mahasiswa semester 5—calon dokter muda yang sebentar lagi memasuki masa koas.

Hari Pertama: Membuka Persepsi dan Dasar Pengetahuan HIV-AIDS

Kegiatan dibuka oleh Kaprodi FK Universitas Udayana, Dr. I Wayan Sumardika, S.Ked., M.Med.Ed., Ph.D. Beliau menekankan pentingnya pelatihan ini sebagai bekal sebelum mahasiswa terjun ke pelayanan klinis. Setelah sambutan dari tim IAC, peserta memperkenalkan diri dan mulai menunjukkan antusiasme yang tinggi.

Sesi pertama menghadirkan materi patologis HIV-AIDS melalui video pembelajaran oleh dr. Brian Sri Prahastuti. Selama lebih dari 90 menit, mahasiswa mempelajari mekanisme penularan, pencegahan, hingga terapi ARV. Setiap bagian materi disertai tugas untuk memperdalam pemahaman. Di akhir sesi, fasilitator menjelaskan rencana kunjungan ke Klinik WM di Denpasar Selatan, lengkap dengan do’s and don’ts agar mahasiswa memahami etika berinteraksi di layanan HIV-AIDS.

Sebelum penutupan, peserta diminta untuk menggambarkan suasana hati pada mood meter. Mayoritas merasa senang dan menikmati kegiatan, meski beberapa mengaku lelah karena padatnya materi.

Hari Kedua: Belajar dari Layanan Komunitas

Hari kedua menjadi titik balik pemahaman mahasiswa. Berangkat bersama menggunakan armada yang disediakan, peserta disambut oleh Dr. Santria di Klinik WM. Mereka belajar tentang sejarah klinik, layanan VCT, hingga strategi eliminasi HIV STOP (Suluh, Temukan, Obati, dan Pertahankan). Peserta juga diajak mengunjungi ruang administrasi, konseling, laboratorium, serta melihat langsung obat ARV.

Pengalaman paling membekas adalah sesi diskusi dengan komunitas populasi kunci. Mereka membagikan pengalaman menerima stigma, salah anamnesis, ketakutan membuka status, hingga efek samping ARV. Harapannya sederhana tetapi  penting—dokter masa depan mampu melayani tanpa stigma, berkomunikasi dengan baik, dan melakukan anamnesis sesuai keluhan.

Kembali ke hotel, peserta mengikuti roleplay anamnesis bersama komunitas. Banyak mahasiswa mengaku cemas, takut salah bicara, tetapi juga senang bisa belajar dari pengalaman nyata. Di sisi komunitas, responnya positif—mahasiswa dinilai ramah, meski masih perlu belajar komunikasi yang lebih sederhana dan empatik.

Hari Ketiga: Pendalaman Nilai dan Pemahaman SOGIESC

Hari ketiga fokus pada transformasi sikap melalui rangkaian sesi VCAT (Values Clarification and Attitude Transformation). Melalui diskusi kelompok, Cross the Line, hingga Four Corner, peserta diajak memahami bias, standar ganda, serta tantangan memakai sudut pandang orang lain. Sesi ini membuka kesadaran bahwa setiap orang membawa nilai yang berbeda, dan sebagai dokter nantinya mereka dituntut mampu menunda penilaian pribadi mereka demi keselamatan dan menjaga martabat pasien.

Setelah itu, fasilitator memperkenalkan materi gender dan SOGIESC (Sexual Orientation, Gender Identity, Expression, and Sex Characteristics), dimulai dari identifikasi perbedaan seks dan gender hingga genderbread model. Peserta aktif berdiskusi, mencoba, dan merevisi pemahaman, menunjukkan proses belajar yang progresif dan terbuka.

Uji coba modul ini menunjukkan bahwa mahasiswa kedokteran sangat mampu menerima pendekatan pembelajaran yang humanis. Dengan kombinasi teori, pengalaman lapangan, dan refleksi nilai, modul pre-service HIV menjadi investasi penting untuk melahirkan dokter muda yang profesional, empatik, dan bebas dari stigma.

Share this article

Ditulis oleh : Budi Larasati