Uji Coba Modul Psychological First Aid: Meningkatankan Kapasitas Pekerja Lapangan

Pada tanggal 23–24 September 2025, Indonesia AIDS Coalition (IAC) melaksanakan uji coba modul Psychological First Aid (PFA) sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas Pekerja Lapangan (PL) dalam memberikan dukungan psikososial.
Kegiatan ini berlangsung selama dua hari dan diikuti oleh peserta yang berasal dari organisasi-organisasi mitra IAC. Yakni SR PKBI DKI Jakarta, SR Kalandara, SR OPSI, SR Yayasan Kerti Praja, IPPI, GWL-INA, Intimuda Indonesia, Yayasan Aksi Keadilan, SSR GEMA, serta SSR YIM Prana. Adapun, tim dari Hati Plong berperan sebagai fasilitator. Melalui pelatihan ini, para peserta diajak untuk memahami konsep dasar kesehatan mental, stres, trauma, dan keterampilan PFA yang dapat diterapkan di situasi krisis.
Kegiatan dimulai dengan sesi perkenalan dan orientasi modul. Setelah itu, fasilitator menjelaskan tujuan kegiatan dan struktur modul yang akan dipelajari selama dua hari.
Materi pertama, “Pengertian Kesehatan Mental,” mengajak peserta untuk mengeksplorasi pemahaman mereka mengenai kesehatan mental melalui sticky notes. Fasilitator menjelaskan bahwa kesehatan mental tidak hanya berarti bebas dari gangguan, tetapi juga kemampuan individu untuk bertumbuh, beradaptasi, dan tetap memiliki makna hidup. Peserta belajar mengenali lima indikator kondisi mental — berkembang, adaptif, mengapung, kesulitan, dan menderita — yang dapat membantu mereka menilai kesejahteraan diri maupun orang lain.
Selanjutnya, peserta diajak memahami faktor-faktor yang memengaruhi kesehatan mental, mulai dari aspek bawaan, pola asuh, kepribadian, hingga lingkungan. Melalui diskusi, peserta diminta untuk mengidentifikasi faktor risiko dan faktor pelindung yang relevan dalam konteks kerja mereka di lapangan.
Masuk ke modul kedua, fasilitator mengulas topik “Stres dan Trauma Psikis” dengan pendekatan reflektif. Peserta diajak memahami perbedaan antara stres dan trauma, mengenali tanda-tanda fisik seperti detak jantung cepat atau rasa panas di tubuh, serta membedakan austress (stres positif) dengan distress (stres berlebihan). Fasilitator juga memperkenalkan teknik grounding dan pernapasan, yang dapat digunakan untuk menstabilkan diri ketika menghadapi situasi emosional berat.
Dalam sesi ini, peserta diajak untuk merenungkan pengalaman pribadi tentang stres dan trauma, juga mempelajari cara memberikan dukungan empatik kepada rekan kerja atau penerima manfaat tanpa menghakimi.
Hari kedua difokuskan pada modul PFA, yang menjadi inti dari pelatihan. Fasilitator menjelaskan bahwa PFA adalah bentuk dukungan awal yang diberikan pada situasi krisis seperti bencana, kekerasan, atau kehilangan. Peserta mempelajari tiga tahapan PFA — penanganan awal, rujukan sekunder, dan intervensi lanjutan oleh tenaga profesional.
Lebih lanjut, fasilitator memperkenalkan enam langkah dasar PFA: melihat, mendengar, memberikan rasa nyaman, membangun koneksi, melindungi, dan menumbuhkan harapan. Peserta berlatih dalam kelompok kecil untuk menerapkan keterampilan mendengarkan aktif dan teknik paraphrasing yang tepat.
Sesi berikutnya membahas mengenai grounding dan perawatan diri (self-care), yang mana peserta mempraktikkan berbagai teknik stabilisasi emosional. Fasilitator menekankan pentingnya perawatan diri bagi PL yang sering bersinggungan dengan situasi sulit.
Sebagai penutup, fasilitator menyampaikan bahwa modul ini tidak hanya memberikan pemahaman teoretis, tetapi juga menanamkan keterampilan praktis yang dapat diterapkan langsung di lapangan. Peserta akan melanjutkan latihan penerapan PFA di lembaga masing-masing, dengan dukungan asistensi berkelanjutan dari tim psikolog Hati Plong.
Melalui kegiatan ini, IAC menegaskan komitmennya untuk tidak hanya mendukung kesehatan fisik, tetapi juga memperkuat ketahanan mental dan empati PL— agar setiap langkah pendampingan selalu berlandaskan pada azas kemanusiaan dan kepedulian pada sesama.
Share this article
Ditulis oleh : Budi Larasati
Follow us
Outline Artikel Ini







