#TenangAdaGue di Jakarta: Membangun Lingkungan Kampus yang Bebas dari Stigma dan Diskriminasi

Universitas Binawan Jakarta menjadi salah satu kampus yang mengambil langkah nyata dalam menciptakan lingkungan yang lebih inklusif melalui penyelenggaraan kampanye #TenangAdaGue bersama dengan Indonesia AIDS Coalition (IAC). Kegiatan yang berlangsung pada 30 Juni hingga 1 Juli 2026 ini mengajak mahasiswa untuk memahami bahwa stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV (ODHIV) maupun kelompok rentan masih menjadi tantangan besar dalam upaya penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia.
Mengusung slogan “Tenang Ada Gue,” kampanye ini tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai HIV, tetapi juga mengajak mahasiswa membangun empati dan keberanian untuk menjadi ruang aman bagi siapa pun tanpa memandang latar belakang maupun status kesehatannya.
Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Dekan Fakultas Bisnis dan Ilmu Sosial Universitas Binawan, Dr. Hastin Trustisari, A.Ks., M.Si., yang menyampaikan bahwa tagline “Tenang Ada Gue” sangat relevan dengan nilai-nilai profesi kesejahteraan sosial. Menurutnya, mahasiswa sebagai calon tenaga profesional harus mampu menghadirkan dukungan bagi sesama dan aktif menyebarkan pesan-pesan positif melalui media sosial agar semakin banyak masyarakat memahami pentingnya menghentikan stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV.
Perwakilan Indonesia AIDS Coalition, Ferry Norila, menjelaskan bahwa salah satu hambatan terbesar dalam pengendalian HIV-AIDS bukan hanya persoalan medis, melainkan stigma dan diskriminasi yang masih dialami ODHIV. Ketakutan akan penolakan sering membuat seseorang enggan melakukan tes HIV maupun menjalani pengobatan secara rutin. Padahal, deteksi dini dan kepatuhan terhadap terapi Antiretroviral (ARV) menjadi kunci agar ODHIV dapat hidup sehat dan produktif.
Sesi utama menghadirkan Nazera Nur Utami yang membahas peran akademisi dalam mengubah paradigma sosial terhadap ODHIV. Berdasarkan pengalamannya sebagai konselor, ia menegaskan bahwa HIV bukan penyakit yang mudah menular. Penularan hanya dapat terjadi melalui kondisi-kondisi tertentu yang telah dibuktikan secara ilmiah. Oleh karena itu, tenaga kesehatan maupun pekerja sosial tidak boleh membiarkan stigma menghalangi pelayanan maupun interaksi sosial dengan ODHIV.
Peserta juga diajak memahami bahwa diskriminasi sering kali lahir dari kurangnya pengetahuan. Misinformasi mengenai HIV-AIDS masih banyak beredar sehingga memunculkan ketakutan yang tidak berdasar. Edukasi yang benar menjadi cara paling efektif untuk melawan stigma sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi ODHIV.
Agar pembelajaran lebih bermakna, panitia menghadirkan metode Values Clarification and Attitude Transformation (VCAT) melalui berbagai aktivitas interaktif. Dalam sesi “Reasons Why,” peserta berdiskusi mengenai berbagai alasan yang melatarbelakangi seseorang berada dalam situasi tertentu, seperti menggunakan narkotika, menjadi pekerja seks, atau terinfeksi HIV. Melalui diskusi tersebut, mahasiswa diajak memahami bahwa setiap individu memiliki latar belakang yang kompleks sehingga tidak pantas dihakimi hanya berdasarkan satu aspek identitas atau pengalaman hidupnya.
Sementara itu, sesi “Cross the Line” mengajak peserta merefleksikan berbagai pandangan yang berkembang di masyarakat, mulai dari anggapan bahwa pembicaraan mengenai seks adalah hal tabu hingga mitos yang mengaitkan HIV dengan hukuman atas perilaku tertentu. Aktivitas ini membuka ruang dialog yang aman sehingga peserta dapat menyadari keberagaman cara pandang sekaligus belajar menghormati perbedaan.
Materi HIV 101 kemudian memperkuat pemahaman peserta mengenai mitos dan fakta seputar HIV, cara penularan yang benar, prinsip ESSE, pentingnya terapi ARV, hingga perbedaan antara stigma dan diskriminasi. Pesan utama yang ditekankan adalah bahwa HIV ditularkan melalui perilaku berisiko, bukan karena orientasi seksual, identitas gender, maupun karakter seseorang. Sebagai calon tenaga kesehatan dan pekerja sosial, mahasiswa diharapkan mampu memberikan layanan secara profesional tanpa dipengaruhi oleh prasangka pribadi.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan pemilihan sepuluh Youth Champion yang akan menjadi agen perubahan di lingkungan kampus. Mereka kemudian terlibat dalam kegiatan public campaign yang menghadirkan berbagai booth edukasi interaktif, permainan mengenai mitos dan fakta HIV, pohon harapan, hingga kampanye media sosial. Antusiasme sekitar 150 mahasiswa dari berbagai program studi menunjukkan bahwa isu anti stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV mendapat perhatian besar dari generasi muda.
Melalui kampanye #TenangAdaGue, Universitas Binawan dan IAC menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari lingkungan kampus. Dengan membangun pengetahuan yang benar, menumbuhkan empati, serta menghapus stigma dan diskriminasi, mahasiswa diharapkan menjadi agen perubahan yang mampu menciptakan masyarakat yang lebih inklusif. Sebab, setiap orang berhak memperoleh layanan kesehatan, penghormatan, dan kesempatan hidup yang setara tanpa harus dibayangi oleh stigma. Sesuai semangat kampanye ini, pesan yang ingin disampaikan sederhana namun bermakna: ketika menghadapi stigma, diskriminasi, atau kesulitan, Tenang, Ada Gue.
Selain di Kota Jakarta, kampanye #TenangAdaGue juga dilakukan di Kota Makassar, Malang, dan Palembang.
Share this article
Ditulis oleh : Budi Larasati
Follow us
Outline Artikel Ini







