Membangun Kolaborasi untuk Pengurangan Stigma dan Diskriminasi HIV di Tanah Papua: Kunjungan Tim IAC ke Kabupaten Manokwari

Sebagai bagian dari implementasi program the Global Fund Grant Cycle 7 (2024–2026), Indonesia AIDS Coalition (IAC) terus memperkuat upaya pengurangan stigma dan diskriminasi terkait HIV-AIDS di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Tanah Papua. Pada tanggal 7–10 Juni 2026, tim IAC melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat, untuk bertemu berbagai pemangku kepentingan dan memperkuat kolaborasi dalam mendukung akses layanan kesehatan yang inklusif dan bebas diskriminasi.
Kunjungan ini menjadi bagian dari persiapan evaluasi program Community System Strengthening and Reducing Human Rights-related Barriers to Access to Health Services (CSS-HR) dan program pencegahan HIV-AIDS pada Pekerja Seks Perempuan (PSP). Selain mengevaluasi capaian program selama tahun 2024–2025, kegiatan ini juga bertujuan untuk memetakan peluang kolaborasi baru dalam mendukung agenda pengurangan stigma dan diskriminasi di Tanah Papua.
Pada hari pertama, tim IAC melakukan diskusi bersama tim SSR Yayasan Papua Lestari (Yapari) Kabupaten Manokwari. Pertemuan tersebut membahas perkembangan implementasi inisiatif Community-Led Monitoring (CLM), berbagai tantangan yang dihadapi di lapangan, serta strategi penguatan koordinasi dengan para pemangku kepentingan daerah. Selain itu, dibahas pula perkembangan program pencegahan HIV pada kelompok PSP yang menjadi salah satu fokus intervensi di wilayah tersebut.
Keesokan harinya, tim IAC melakukan kunjungan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari dan Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat. Dalam pertemuan dengan jajaran implementor program HIV-AIDS dan tim the Global Fund di tingkat provinsi, dibahas rencana perluasan implementasi CLM dan pengembangan kampanye pengurangan stigma dan diskriminasi yang akan melibatkan fasilitas layanan kesehatan dan pemerintah daerah. Dukungan pemerintah daerah dinilai sangat penting untuk memastikan pendekatan berbasis HAM dapat terintegrasi dalam pelayanan HIV-AIDS.
Selain berdiskusi dengan pemerintah, tim IAC juga berkesempatan mengunjungi salah satu lokasi dampingan program pencegahan HIV pada PSP. Kunjungan ini menjadi ruang dialog langsung untuk mendengarkan pengalaman dan kebutuhan komunitas, sekaligus memahami tantangan yang masih dihadapi dalam mengakses layanan kesehatan secara aman dan bebas diskriminasi.
Pada hari ketiga, fokus kunjungan diarahkan pada penguatan kemitraan lintas sektor. Tim IAC melakukan pertemuan dengan media lokal untuk membahas peluang kolaborasi dalam kampanye publik terkait pengurangan stigma dan diskriminasi HIV-AIDS. Media memiliki peran strategis dalam membangun narasi yang positif dan mendorong pemahaman masyarakat terhadap isu HIV-AIDS secara lebih objektif dan berperspektif HAM.
Selanjutnya, tim IAC juga menjalin komunikasi dengan tokoh agama melalui kunjungan ke gereja di Manokwari. Keterlibatan institusi keagamaan dipandang penting mengingat pengaruhnya yang besar dalam membentuk sikap dan perilaku masyarakat. Dialog awal yang dilakukan membuka peluang kerja sama dalam pelaksanaan kampanye edukasi dan pemberdayaan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif bagi Orang dengan HIV (ODHIV).
Tidak hanya itu, IAC juga menggandeng institusi pendidikan kesehatan melalui kunjungan ke Kampus Manokwari Politeknik Kesehatan Sorong. Dalam pertemuan yang melibatkan dosen dan mahasiswa kebidanan dan keperawatan, dibahas peluang pelaksanaan pelatihan pre-service bagi calon tenaga kesehatan. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai layanan kesehatan yang bebas stigma dan diskriminasi sejak masa pendidikan.
Pada hari terakhir, tim IAC mengunjungi sejumlah fasilitas layanan kesehatan, termasuk Puskesmas Wosi dan Puskesmas Maripi. Diskusi bersama tenaga kesehatan difokuskan pada rencana perluasan CLM sehingga seluruh pasien yang mengakses layanan HIV-AIDS dapat memberikan umpan balik terhadap kualitas layanan yang diterima. Pendekatan ini diharapkan dapat mendorong peningkatan mutu layanan sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap sistem kesehatan.
Kunjungan ditutup dengan peninjauan ke salah satu hotspot terbesar di Kabupaten Manokwari yang menjadi lokasi intervensi program pencegahan HIV. Dari kunjungan tersebut terlihat adanya kolaborasi yang baik antara komunitas, fasilitas layanan kesehatan, dan mitra implementasi dalam memastikan akses layanan kesehatan bagi kelompok rentan.
Melalui rangkaian kunjungan ini, IAC semakin optimistis bahwa pengurangan stigma dan diskriminasi di Tanah Papua dapat dicapai melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah, layanan kesehatan, komunitas, institusi pendidikan, media, dan tokoh agama. Hasil dari berbagai pertemuan ini akan menjadi masukan penting dalam penyusunan rekomendasi bagi program HIV-AIDS ke depan, sekaligus mendukung perencanaan Grant Cycle 8 periode 2027–2029 yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat di Tanah Papua.
Adapun selain Kabupaten Manokwari, kunjungan oleh tim IAC juga dilakukan ke Kota Sorong, Kabupaten Fakfak, Kabupaten Nabire, Kota Timika, Kabupaten Jayapura, dan Kabupaten Merauke.
Share this article
Ditulis oleh : Budi Larasati
Follow us
Outline Artikel Ini







