Indonesia AIDS Coalition Bekali Calon Pekerja Sosial UMM dengan Perspektif HAM dan Pendekatan Inklusif

Menjadi pekerja sosial bukan hanya tentang membantu orang lain, tetapi juga tentang memahami keberagaman, menghargai HAM, serta mampu memberikan layanan tanpa stigma dan diskriminasi. Berangkat dari semangat tersebut, Indonesia AIDS Coalition (IAC), yang bekerja sama dengan Program Studi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Pelatihan Pre-Service bagi Calon Pekerja Sosial.
Pelatihan yang berlangsung pada tanggal 22-25 Juni ini menjadi bagian dari komitmen bersama dalam mempersiapkan generasi pekerja sosial yang profesional, inklusif, dan memiliki keberpihakan terhadap kelompok rentan, termasuk Orang dengan HIV (ODHIV) dan populasi kunci terdampak HIV-AIDS.
Sebagai organisasi berbasis komunitas yang memperjuangkan hak-hak ODHIV dan populasi kunci, IAC meyakini bahwa perubahan layanan sosial harus dimulai dari proses pendidikan. Melalui kerja sama ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga pengalaman langsung yang akan menjadi bekal saat terjun ke dunia praktik.
Sejak hari pertama, peserta diajak melakukan refleksi terhadap nilai dan sikap pribadi melalui metode Values Clarification and Attitude Transformation (VCAT). Berbagai studi kasus digunakan untuk mengajak peserta mengidentifikasi bagaimana stigma, stereotip, dan prasangka dapat memengaruhi cara seseorang memperlakukan kelompok rentan. Diskusi berlangsung terbuka dan mendorong peserta melihat persoalan sosial dari berbagai sudut pandang, bukan sekadar berdasarkan asumsi pribadi.
Pelatihan menjadi semakin interaktif melalui berbagai permainan reflektif, seperti Cross the Line, yang mengajak peserta menyampaikan pendapat mengenai isu terkait HIV-AIDS dan keberagaman. Aktivitas ini membantu mahasiswa menyadari bahwa setiap individu memiliki pengalaman, nilai, dan perspektif yang berbeda, sehingga seorang pekerja sosial dituntut untuk selalu mengedepankan empati dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Pada hari kedua, peserta memperoleh materi mengenai Prevention of Sexual Exploitation, Abuse and Harassment (PSEAH) sebagai bagian penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan beretika. Selain memahami berbagai bentuk kekerasan dan eksploitasi seksual, mahasiswa juga belajar mengenai tanggung jawab profesional dalam mencegah terjadinya penyalahgunaan relasi kuasa di lingkungan kerja maupun pelayanan sosial.
Materi mengenai Sexual Orientation, Gender Identity and Expression, and Sexual Characteristics (SOGIESC) turut menjadi bagian penting dalam pelatihan. Melalui diskusi interaktif, peserta diajak memahami keberagaman identitas/ekspresi gender dan orientasi seksual berdasarkan perspektif HAM dan meluruskan berbagai mitos yang masih beredar di masyarakat dengan fakta yang sesungguhnya. Sesi ini memperkuat pemahaman bahwa setiap individu berhak memperoleh layanan yang setara tanpa diskriminasi.
Puncak pembelajaran berlangsung pada hari ketiga ketika mahasiswa bertemu langsung dengan perwakilan komunitas sebagai Expert Patient Trainer (EPT). Perwakilan ODHIV, transgender, Laki-laki yang berhubungan Seks dengan Laki-laki (LSL), Pekerja Seks Perempuan, dan mantan pengguna NAPZA berbagi pengalaman hidup sekaligus menjadi narasumber dalam simulasi asesmen sosial.
Melalui praktik tersebut, peserta belajar membangun komunikasi yang empatik, melakukan asesmen kebutuhan, serta mendengarkan pengalaman hidup tanpa menghakimi. Setelah simulasi selesai, para EPT memberikan umpan balik secara langsung mengenai teknik komunikasi, sikap profesional, kemampuan menggali informasi, hingga cara membangun rasa aman selama proses pendampingan. Pengalaman ini menjadi pembelajaran yang sangat berharga karena memberikan gambaran nyata mengenai tantangan yang akan dihadapi pekerja sosial di lapangan.
Pelatihan juga mengangkat studi kasus “Mengapa Maya Meninggal” yang mengajak peserta menganalisis persoalan perlindungan anak, kekerasan seksual, akses ke layanan kesehatan, hingga pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menangani kasus-kasus kompleks. Melalui diskusi tersebut, mahasiswa diajak melihat bahwa persoalan sosial tidak pernah berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan.
Menjelang penutupan, peserta dibekali materi mengenai komunikasi efektif, prinsip-prinsip kerja sosial, kesehatan mental, serta teknik grounding untuk menjaga kesejahteraan psikologis saat mendampingi masyarakat. Seluruh rangkaian pelatihan kemudian ditutup dengan sesi refleksi, yang mana peserta berbagi pengalaman, perubahan perspektif, serta komitmen untuk menerapkan nilai-nilai yang telah dipelajari dalam praktik profesional mereka.
Melalui pelatihan pre-service ini, IAC bersama dengan UMM berharap dapat melahirkan calon pekerja sosial yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki empati, integritas, serta keberanian memperjuangkan hak-hak kelompok rentan. Sebab, pekerja sosial yang berkualitas bukan hanya mampu menyelesaikan persoalan sosial, melainkan juga menjadi agen perubahan yang menghadirkan layanan yang adil, inklusif, dan berlandaskan penghormatan terhadap HAM.
Share this article
Ditulis oleh : Budi Larasati
Follow us
Outline Artikel Ini







