Picture1

2nd Regional CLM Workshop

Community-led Monitoring (CLM), atau yang juga dikenal sebagai pemantauan berbasis komunitas, terbukti meningkatkan capaian bagi program HIV dan kesehatan secara umum, bagi ODHIV maupun populasi kunci. Strategi AIDS global 2021-2026 memprioritaskan pemberian dukungan terhadap respons yang dimpimpin oleh komunitas, termasuk CLM. Harapannya adalah berbagai data dan informasi yang dikumpulkan melalui CLM ini dapat digunakan untuk memastikan agar program berjalan sesuai dengan kebutuhan ODHIV dan populasi kunci.

Kini, CLM dipandang sebagai salah satu tools penting bagi respons HIV di Kawasan Asia-Pasifik. Telah terdapat berbagai inisiatif CLM baik di lingkup nasional maupun regional, yang dipimpin dan dilaksanakan oleh Organisasi Berbasis Komunitas (OBK) maupun jaringan nasional populasi kunci. CLM menempatkan komunitas pada garis depan respons HIV, memberdayakan, dan memberikan mereka peran penting dalam proses perencanaan dan pemantauan pelayanan HIV. Akan tetapi, terlepas dari berbagai inisiatif baik, juga terdapat sejumlah tantangan, yang mencakup tetapi tidak terbatas pada, mendorong penerimaan yang konsisten atas prinsip-prinsip CLM oleh para pemangku kepentingan terkait, scaling up pilot project CLM, dan mengelola konflik kepentingan. Juga termasuk dalam tantangan adalah ketidaksesuaian antara aspirasi dari pihak pelaksana dengan sumber daya yang tersedia.

Di tingkat regional, Jaringan Regional ODHIV dan Populasi Kunci telah membentuk konsorsium CLM regional, yakni Seven Alliance, yang berfungsi sebagai badan koordinasi untuk mendorong pelibatan komunitas yang efektif dalam pemantauan layanan HIV. Konsorsium Seven Alliance ini terdiri atas APCOM, Asia Pacific Network of People Living with HIV/AIDS (APN+), Asia Pacific Network of Sex Workers (APNSW), Asia Pacific Transgender Network (APTN), International Community of Women Living with HIV in Asia Pacific (ICW-AP), Network of Asian People who Use Drugs (NAPUD), dan Youth LEAD.

Menanggapi momentum dan kebutuhan di kawasan, Seven Alliance, bekerja sama dengan Tim Dukungan Regional UNAIDS untuk Kawasan Asia dan Pasifik (UNAIDS RST AP) menyelenggarakan Lokakarya Regional CLM ke-2. Lokakarya ini didanai oleh Center for Disease Control and Prevention (CDC), melalui perjanjian kerja sama dengan UNAIDS, dengan dukungan tambahan dari Global Fund melalui hibah multi-negara SKPA-2 dan dari para pemangku kepentingan lain.

Tujuan besar dari kegiatan lokakarya ini adalah untuk memberikan ruang bagi para pelaksana CLM, OBK, jaringan regional, lembaga pemerintah, donor, badan-badan PBB, serta penyedia bantuan teknis untuk saling berbagi pengetahuan, pengalaman, dan tools, yang diharapkan dapat membantu menyelaraskan, memperkuat, scaling up proyek, serta mempertahankan keberlanjutan CLM di kawasan.

Lokakarya ini difasilitasi oleh para ahli CLM, juga ahli dari Seven Alliance dan UNAIDS RST AP. Metode yang digunakan bersifat interaktif seperti presentasi poster, analisis kasus, diskusi panel, marketplace of ideas, dan diskusi pleno.  Hal tersebut diharapkan dapat mendorong diskusi dan menciptakan peluang interaksi antara Jaringan Regional Populasi Kunci, OBK, perwakilan lembaga pemerintah, dan mitra pembangunan. Lebih lanjut, lokakarya juga menyediakan platform bagi pembelajaran silang mengenai implementasi CLM, melalui sharing praktik baik, faktor-faktor pendukung CLM (enabler), mekanisme keberlanjutan, dan pembelajaran. Selain itu, lokakarya ini turut didedikasikan untuk memperkuat keterampilan organisasi dan jaringan yang dipimpin oleh komunitas untuk mengambil peran kepemimpinan yang lebih dalam semua tahapan CLM. Yakni dari tahap perencanaan hingga pemantauan dan evaluasi. Terakhir, lokakarya ini menjadi momen untuk mengevaluasi status CLM di kawasan dan memungkinkan negara-negara untuk mengembangkan rencana untuk melakukan scaling up CLM, yang juga memfasilitasi pengembangan dari rencana aksi regional.

Adapun untuk Indonesia, rencana aksi yang disusun meliputi:

Kepemimpinan komunitas:

  • Memperkuat CLM-INA Task Force.

Pengumpulan dan Analisis Data:

  • Mengintegrasikan CLM dalam sistem M & E nasional, termasuk mengupayakan agar data CLM diakui sebagai salah satu sumber data dalam Rencana Strategis Nasional Penanggulangan HIV Tahun 2025-2026.
  • Penguatan sistem pengelolaan data di komunitas dan penggunaan data untuk upaya advokasi.
  • Mengembangkan CLM tools untuk perluasan CLM di 178 distrik.
  • Finalisasi CLM knowledge management platform.

Advokasi:

  • Membangun mekanisme pemantauan advokasi (evaluasi dampak), termasuk menetapkan strategi untuk memanfaatkan platform koordinasi yang tersedia untuk mengkomunikasikan upaya-upaya CLM seperti National Policy Dialogue, District Task Force, dan District Policy Dialogue.

Kebutuhan TA dan Peningkatan Kapasitas:

  • Asesmen sumber daya lokal untuk pelaksanaan CLM.
  • Pemberian bantuan teknis dari CLM Champion kepada pelaksana CLM di tingkat lokal demi mendorong perluasan CLM, termasuk integrasi CLM dalam berbagai kegiatan seperti penjangkauan populasi kunci dan pemberian dukungan sebaya.

Koordinasi dalam Negeri:

  • Memperkuat mekanisme umpan balik pada semua tingkatan, yang meliputi faskes, distrik, hingga nasional.

Keberlanjutan:

  • Mendorong upaya demand creation demi meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai manfaat CLM dan menyalurkan masukan tersebut kepada pemangku kepentingan.
  • Memberikan laporan berkala sehubungan dengan evaluasi dampak demi menyorot manfaat CLM.
  • Mendorong OBK untuk mengeksplorasi sumber pendanaan alternatif demi keberlangsungan proyek, seperti CSR, crowdfunding, APBD, dsb.

Share this post

On Key

Related Posts

Lowongan Kerja

Vacancy Focal Point Daily

Jabatan : Focal Point Daily Kode Jabatan : FPD/GFK/V/2017 Durasi : Seusai Durasi Program ? Pekerja Harian Tingkat : V Bagian : Program GF-KEMENKES Melapor

Read More »

2nd Regional CLM Workshop

Community-led Monitoring (CLM), atau yang juga dikenal sebagai pemantauan berbasis komunitas, terbukti meningkatkan capaian bagi program HIV dan kesehatan secara umum, bagi ODHIV maupun populasi kunci. Strategi AIDS global 2021-2026 memprioritaskan pemberian dukungan terhadap respons yang dimpimpin oleh komunitas, termasuk CLM. Harapannya adalah berbagai data dan informasi yang dikumpulkan melalui CLM ini dapat digunakan untuk […]

Kegiatan Audiensi Koalisi Masyarakat untuk Keadilan Ekonomi (MKE) dengan Direktorat Organisasi Perdagangan Dunia

Organisasi Perdagangan Dunia, atau yang juga dikenal sebagai World Trade Organization (WTO), adalah sebuah organisasi internasional yang mengatur perdagangan antar negara. Fokus dari WTO adalah untuk membuka akses perdagangan, dengan cara mengurangi hambatan baik tarif maupun non-tarif. Dalam membuat keputusan, WTO memiliki dua badan pengambil keputusan, yakni Konferensi Tingkat Menteri (KTM) dan Dewan Umum. Lebih […]

Dialog Kebijakan Nasional CLM “Our Voice, Our Future: Biarkan Komunitas Memimpin”

Keterlibatan masyarakat, yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 1984 melalui prinsip Greater Involvement of People Living with HIV (GIPA), yang menyarankan agar ODHIV diperlakukan setara, diperhatikan dalam program penanggulangan HIV-AIDS, serta dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan dan desain program. Prinsip GIPA juga menyarankan adanya pemantauan terhadap implementasi program, yang berbasis pada masyarakat. Terkait hal tersebut, […]

Pertemuan Kajian dan Analisis Data, Dokumen, dan Temuan Lapangan terkait Evaluasi District Task Force (DTF)

Program Penguatan Sistem Komunitas dan Hak Asasi Manusia (CSS-HR) dilaksanakan oleh Indonesia AIDS Coalition (IAC) di 23 kabupaten/kota dari12 provinsi di Indonesia pada tahun 2022-2023. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mendorong terbentuknya District Task Force (DTF). DTF secara independen turut berpartisipasi dalam upaya penanggulangan HIV, khususnya pada isu penguatan system komunitas dan pengurangan hambatan […]

Pertemuan Koordinasi dan Evaluasi Koalisi Obat Murah (KOM)

Akses ke obat merupakan elemen penting dari kesehatan publik dan merupakan indikator efektif bagi kesetaraan sosial. Menurut Medecins Sans Frontieres (MSF), sekitar satu per tiga penduduk dunia tidak memiliki akses ke obat-obatan esensial, dan jumlah tersebut meningkat menjadi ½ di beberapa wilayah di Benua Afrika dan Asia. Ketersediaan obat dan layanan kesehatan bervariasi pada tingkat […]

want more details?

Fill in your details and we'll be in touch