Memperkuat Respons Global terhadap HIV pada Anak: Dua Pertemuan Strategis di Kigali

By Published On: August 12th, 2025

Memperkuat Respons Global terhadap HIV pada Anak: Dua Pertemuan Strategis di Kigali

By Published On: August 12th, 2025

Pada bulan Juli 2025, Kota Kigali, Rwanda menjadi tuan rumah bagi dua pertemuan internasional penting. International Workshop on Pediatrics & HIV 2025 (11–12 Juli) dan Aidsfonds Paediatric Partner Meeting 2025 (13–15 Juli) menghadirkan para ilmuwan, klinisi, pembuat kebijakan, aktivis komunitas, dan mitra implementasi dari berbagai negara.

International Workshop on Pediatrics & HIV 2025

Selama dua hari, workshop ini menjadi wadah untuk memperbarui pengetahuan dan berbagi strategi implementasi, mulai dari pencegahan penularan vertikal hingga inovasi perawatan remaja dan kesiapan transisi ke layanan dewasa.

Hari pertama dibuka dengan sambutan Dr. Lynne Mofenson dan Dr. Elaine Abrams, yang menegaskan pentingnya respons cepat di tengah perkembangan ilmu pengobatan. Dr. Gallican Rwibasira mewakili Rwanda Biomedical Centre, menekankan komitmen negaranya pada kesehatan ibu dan anak terkait HIV.

Sesi-sesi kunci meliputi:

  • Pembaruan global yang menyoroti stagnasi penurunan infeksi baru pada anak dan kesenjangan akses perawatan.
  • Pencegahan infeksi baru melalui inovasi seperti PrEP jangka panjang untuk ibu hamil/menyusui dan PrEP pada bayi.
  • Suara remaja yang berbagi pengalaman hidup dengan HIV dan menyoroti kebutuhan dukungan mental, keterlibatan bermakna, dan model layanan keluarga.

Hari kedua menyoroti penelitian mutakhir seperti penggunaan antibodi penetralisasi luas (bNAbs), terapi gen, serta perdebatan mengenai penggunaan statin bagi remaja dengan HIV perinatal. Sesi juga mengupas komorbiditas seperti TB, HPV, dan Mpox, juga kesenjangan layanan untuk anak usia sekolah.

Aidsfonds Paediatric Partner Meeting 2025

Pertemuan tiga hari ini menjadi ruang refleksi strategis bagi mitra Aidsfonds yang bekerja di isu HIV pada anak.

Hari pertama difokuskan pada perayaan capaian dan berbagi praktik terbaik. Mitra mempresentasikan model inovatif, mulai dari dukungan sebaya yang dipimpin oleh remaja hingga penguatan hubungan klinik–komunitas. Sesi ‘Lessons from BLOOM’ menekankan pentingnya kesehatan mental pengasuh dan integrasi terapi berbasis bermain dalam perawatan anak.

Hari kedua membahas pembaruan Theory of Change (ToC) dan peluncuran format laporan baru yang lebih sederhana dan fokus pada cerita mengenai hasil. Konsep ‘impact culture’ diperkenalkan untuk mendorong pembelajaran berkelanjutan, bukan sekadar laporan pelaksanaan.

Hari ketiga menyoroti tata kelola, advokasi, dan strategi keberlanjutan. Peserta membahas tantangan pendanaan, pentingnya advokasi untuk pengadaan formulasi pediatric Dolutegravir (DTG), dan integrasi HIV anak dengan layanan kesehatan anak dan perlindungan sosial.

Pesan Utama

Dari dua pertemuan ini, sejumlah pesan kunci mengemuka:

  • Inovasi seperti PrEP jangka panjang, bNAbs, dan terapi gen menjanjikan, tetapi harus diimbangi dengan pemerataan akses.
  • Remaja dengan HIV perinatal memerlukan layanan yang terintegrasi, termasuk dukungan mental dan transisi yang aman.
  • Anak usia sekolah sering terabaikan dalam penelitian dan program, padahal kebutuhannya unik.
  • Pendekatan berbasis komunitas dan kemitraan lintas sektor adalah kunci keberlanjutan.
  • Penguatan budaya pembelajaran (impact culture) penting untuk memastikan program berorientasi pada hasil yang bermakna bagi anak dan keluarga.

Kigali 2025 menegaskan bahwa masa depan respons HIV pada anak bergantung pada kolaborasi global yang berani, inovasi yang inklusif, juga komitmen untuk tidak meninggalkan satu pun anak dalam perjuangan menanggulangi HIV.

Share this article

Ditulis oleh : Budi Larasati